Naskah dengan judul Tutur Sundhari Bungkah dengan nomor :07.182 ini adalah koleksi UPT Museum Bali, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Naskah ditulis di atas rontal berukuran 43x3,5 cm. Naskah terdiri dari 90 lempir/4 baris, berbahasa Jawa Kuna/Kawi, beraksara Bali, tanpa penakep, huruf jelas terbaca, dan tampak masih utuh. Teks berisikan uraian tentang kelahiran Hyang Wariga dan manusia sebagai pemegang dan pelaksana wariga dengan sebaik-baiknya, juga uraian tentang sasih (Kasa–Sada), konsep bhuwana agung (alam makro) dan bhuwana alit (alam mikro), adanya saptawara (Redite/Minggu -- Saniscara/Sabtu), adanya pawukon (Sinta– Watugunung) dengan sifat atau wataknya masing-masing, sejumlah cara ruwatan, dan sebagainya.
Teks terjemahan Lontar:
1b. Ya Tuhan (Ida Hyang Widhi Wasa) semoga tidak ada rintangan. Ini adalah Tutur Sundhari Bungkah namanya, jika ingin mengetahui kelahiran/ hakikat Hyang Wariga, ketika Hyang Tiga mencipta wariga, melahirkan empat manusia berikut perilaku baik buruknya, bersama Sanghyang Tiga, Sanghyang Licin, Sanghyang Ketu, Sang Rawu, beserta istananya di dalam diri. Sanghyang Licin beristana di antara jantung, seperti angin warnanya, demikian wujudnya, beliau Sanghyang Tudhuh, senantiasa tampak bahagia tiada pernah bersedih, sungguh tidak ingin lepas darinya jika telah memahami dengan baik. Sanghyang Ketu bertempat di dalam hati yang terdalam, ibarat emas suara dan warnanya, Ongkara Ngadeg rupanya, Ong aksaranya, Dewa Brahma penciptanya, menguasai hidup matinya (pasuk-wetu), adalah dasawara sejati, demikian keberadaannya tiada tertandingi. Sedangkan .
2a. Sanghyang Rawu beristana di empedu, seperti minyak mengalir
rupanya, Ong (dan) Angkara terbalik wujudnya, Ong aksaranya, Hyang Wisnu menguasai
kematian, yang berada di wurung-wurung
gadhing sebagai keluar-masuknya, berupa tenaga utama, sangat berbahaya,
mengakibatkan marabahaya bagi seluruh manusia semua, berwujud Dewa Kala,
senantiasa membunuh perilakunya, berupa Eka Bhaya, berada di dalam Eka Wara,
uripnya tunggal. Demikian yang mesti
diketahui, yang asalnya tunggal, menjadi Sanghyang Licin, berupa Windhu, Windhu menjadi Kala, Kala menjadi menga, pepet menjadi dora, waya byantara, itulah
menjadi sri, laba, jaya, mandala.
Selanjutnya menjadi umanis, paing
pon, wage, kliwon, menjadi tungleh,
ariang, wurukung, paniron, was, mahulu,
menjadi radite, soma, anggara,
budha, wrehaspati, sukra, saniscara, menjadi sri, indra, guru, yama, rudra, brahma, kala, uma, menjadi dangu, jangur, gigis, nohan, ogan, erangan,
urungan, tulus, dadi. Menjadi
pengalihan
2b. sengker, purnama, tilem berjumlah tiga puluh, menunggal menjadi panditha, pati, suka, duka, sri, manusa, raja, dewa, raksasa. Beliaulah penyebab adanya baik-buruk, yang berisikan dasa wara, itu bernama wawara, yang disebut dengan dina (hari), adalah perincian dina (hari), demikian yang mesti dipahami, jangan lupa, bagi siapa saja yang paham perihal ini, wajar atau boleh memegang/menjalani wariga, dan memberi dewasa, tentu tidak berbahaya, karena telah mengetahui baik dan buruk serta memahami hakikat Sanghyang Tuduh, sambutlah beliau, karena Sanghyang Licin juga berwujud Hyang Tuduh, Sanghyang Ketu baik, Sanghyang Rawu buruk, demikian ibarat diselimuti oleh-Nya. Ketika beliau ingin bersatu dengan Hyang Wara, sangatlah rahasia keberadaannya. Jika hal ini dilanggar, tentu akan kena kutuk oleh Sanghyang Licin. Jika dalam sastra, hal ini dibenarkan, demikian hal tersebut dirahasiakan oleh Sanghyang Widhi.
3a. Ini sasih yang
dipilah dua, mempunyai satu nama, dwi
wara adalah sasih dipilah tiga,
bersatu menjadi tri wara. Sasih
dipilah empat, manunggal menjadi catur
wara. Sasih dipilah enam menunggal menjadi sad wara. Sasih dipilah
tujuh menjadi sapta wara, sasih dipilah delapan menjadi asta wara. Sasih dipilah sembilan menunggal menjadi sanga wara. Dari sanga wara
menjadi dasa wara. Panca
wara menjadi eka wara,
demikianlah perihal yang namanya wariga
gemet. Itu sebabnya ada purmana
titigga, tilem titigga, wuku
berisi purnama dan tilem, sapta wara berisi purnama
dan tilem. Itu juga penyebab adanya purnama kapurnaman, tilem katileman. Itulah yang
menyebabkan adanya dewasa.
3b. pratiti, pahubun, dan pangalihan,
namanya genap 10. Dalam pratiti 12 menjadi 15, angka genap
ketika posisinya mengarah ke utara, yakni tepat pada posisi timur mengarah ke
selatan, bertepatan pada dauh 1 dan dauh 3.
Demikian yang disebut dewasa, de berarti guru, wa berarti terang benderang, sa
berarti dewa. Berada dalam Tri Lingga
Karma, Bhuwana Agung, Bhuwana Alit, dikatakan bisa muncul dalam eka wara dan dasa wara, begitulah keberadaannya. Inilah ciri mengenai
perhitungan, yang mesti diketahui, Sang Hasta Wara, memenuhi alam Bhur Bwah
Swah, radite menuju arah timur,
bertemu dengan Sang Indra yang mengajarkan adanya sifat baik dan buruk di
bumi. Teramat belas kasihan Sang Indra
kepada Sang Radite, juga perihal keberhasilan. Segera Sang Wrehaspati
4a. menuju arah tenggara, bertemu dengan Sang Guru, dianugerahi
segala hal tentang baik-buruk. Pergi
Sang Saniscara menuju arah selatan, bertemu Sang Yama, memadu cinta kasih yang
disebut dengan agnu swabhawa rasa,
berisikan tentang baik buruknya dunia.
Sang Anggara menuju arah barat laut bertemu Hyang Ludra, dianugerahi
rasa baik buruknya alam semesta. Sang
Buddha pergi ke pascima desa, bertemu dengan Hyang Brahma, dianugerahi ilmu kediatmikan tentang bhuwana agung dan
bhuwana alit. Sang Soma pergi ke utara
desa bertemu dengan Bhatari Uma, dianugerahi amerta yang menghidupi dunia.
Sang Sukra pergi ke timur laut berjumpa dengan Bhatari Sri, dianugerahi
tentang kehidupan alam makro (bhuwana
agung) dan mikro (bhuwana alit). Ceritakan perihal asta wara, telah sepakat akan nasihat-nasihatnya, berkatalah Hyang
Indra,
4b. di kaki Hyang Lurweswara (Siwa), disertai oleh seluruh dewa
untuk mendengarkan sabda utama.
Berkatalah Hyang Giri Purusangkara, menyepakati Siwa dan Kala sebagai
jiwa dan penjaga semesta alam ini. Bhatara Siwa sebagai matahari dunia, Bhatara
Kala sebagai bulan, itulah sebagai penguasa seluruh alam semesta. Dalam perjalanannya sejumlah 210, semuanya
berdasar pada kata sepakat. Sasih ke-1 berdasarkan warah adalah gelap, sasih ke-2 berdasarkan petunjuk dwi
wara, sasih ke-3 berdasarkan petunjuk tri wara, sasih ke-4
berdasarkan petunjuk catur wara, sasih ke-5 berdasarkan petunjuk panca wara, sasih ke-6 berdasarkan petunjuk sad
wara, sasih ke-7 berdasarkan
petunjuk sapta wara, sasih ke-8 berdasarkan petunjuk asta wara, sasih ke-9 berdasarkan petunjuk sanga
wara, sasih ke-10 berdasarkan
petunjuk dasa wara.
5a. Inti pokok dari sasih,
yakni Bhatara Siwa sasih jyesta
sesuai dengan anugerah-Nya, sasih saddha
berdasarkan anugrah utama Bhatara Siwa adalah malam hari, Batara Kala berupa purnama tilem, itulah inti pokok dari sasih yang menjadi akasa dan pratiwi. Jyesta
diapit oleh tanah, saddha diapit oleh
kayu. Itu sebabnya tidak boleh saat sasih jyesta dan saddha untuk
melaksanakan upacara yajña. Namun, jika dilakukan sesuai dengan sang
Jyesta dan sang Saddha, sebaiknya setelah pukul 12 siang menjelang sore hari,
dari sang Jyesta dan sang Saddha, baikburuknya dilabrak, hidup dan mati, antara
ada dan tidak ada, antara tidur dan bangun, pananggal-panglong, tetapi perwujudan dari Bhatara
Siwa yang memenuhi alam bhur dan bhwah, demikian kemanunggalan segala
yang ada, bernama pasasanjan atau panutugan
5b. yang tidak pernah berkurang, selalu atangi (atutur), tidak
pernah lesu, tidak lupa, tidak makan, tidak tidur, itu jyesta saddha
namanya. Tiada henti menjalankan
baik-buruk, jalan yang keduanya sama, seperti eka wara berarti diam, dwi
wara berarti berkata, tri wara
berarti pikiran, itu lahir dari sang Jyesta Saddha, kelahirannya semua mesti
diketahui yang disebut dengan bhumi agung,
mahapadma, bhuwana alit, itu bhumi
namanya. Namun, apa sebabnya diam juga jyesta saddha, melahirkan hal yang berbeda di bumi ini, beliau berwujud
api, aktivitas dari Siwa Kala, tiada pernah berhenti, ibarat air mengalir,
karena diperkuat oleh sang Jyesta Kala, tetapi berstana pada tri wara. Sri Giri Puru Sangkara adalah wiku sang
Jyesta, pandhita sang Saddha.
6a. berlandaskan dharma,
itu wujudnya karena mampu memerintah semesta alam, namun mesti dirahasiakan
kepada orang lain. Itu sajen Sanghyang Giri Puru Sangkara. Karenanya, jarang orang yang tahu, ibarat
asap bentuknya, inilah kaputusan warigga,
sehingga warigga putus sasih warah-warah
namanya, hingga menjelang malam, seperti yang ada pada sapta wara. Tilem bertemu tilem, silih berganti hingga 30 hari, semua itu bernama sasih tenggek warah. Tumpek bertemu tumpek, dua kali pertemuan tumpek
kuningan dengan wuku wayang, itu
namanya wulan tanpa sirah (bulan
tanpa kepala), apabila sasih tanpa tumpek, dua kali pertemuannya, disebut tumpek gowang. Itu bernama sasih, rah, tenggek, selalu kena marabahaya, itu
berakibat akan termakan (kapangan),
jika bertemu dengan rotasi sasih ganjil.
6b. terasa sulit dunia ini, bertemu dengan perubahan waktu, karena
bernama guru ro atau guru labha, lahir
dua kali kajeng dalam sepekan yang
disebut kajeng rentetan, bertepatan pada wrehaspati
pon Landep, Buda kliwon Gumbreg, anggara paing Sungsang, buda pon Pujut, radite paing Mrakih, radite
wage Wayang, saniscara umanis
Watugunung. Saniscara paing Wukir, semua itu memiliki kajeng rentetan. Ini adalah perwujudan sang wiku, yang paham
tentang warigga gemet. Wa
berarti sinar terang, ri berarti
pucak/ujung, gga berarti badan/sarira, itu dikatakan sarita tanpa sarira, tanpa budhi, baik-buruk, hal ini sama dengan
tiga helai ilalang yang tumbuh pada bebatuan, sarat akan budhi, itulah bagian penting dari sundhari bungkah, intisari dari makna bungkah, ratusan perilaku utama, selesai. Ini ajaran kebenaran sasih, eka wara, dwi wara, tri wara,
7a. catur wara, panca wara, sanga wara, itu menjadi wuku, berjumlah 30 buah. Panca wara dan sapta wara adalah wahana dari sasih ka-1dan ke2, juga bernama warah dan tenggek, menjadi purnama tilem, demikian hari-hari itu tampak saling mengisi. Ada lagi perihal hari sesuai tanggal, jika tanggal 1 adalah hari baik untuk beryajña (bayar utang) juga baik untuk membuat tulud. Tanggal 2 harinya api, baik untuk memuja leluhur dan membangun sanggar. Tanggal 3 disebut hari macan, baik untuk membuat kandang. Tanggal 4 disebut hari kucing, baik untuk membuat kerangkeng juga baik untuk membuat lumbung. Tanggal 5, disebut hari brejit, sangat buruk. Tanggal 6, harinya kobol, baik untuk membuat pagar dan dinding/tembok. Tanggal 7, harinya tikus, tidak ada hari baik/ dewasa. Tanggal 8, disebut hari ayam,
7b. sangat baik untuk menangkap ayam. Tanggal 8, disebut hari busah, tidak ada hari baik/dewasa.
Tanggal 10, disebut hari wangke,
tidak ada hari baik/dewasa. Tanggal 11,
disebut hari penuh, baik untuk melakukan segala pertemuan. Tanggal 12, hari kta, baik untuk membuat patung. Tanggal 13, hari meggha, baik untuk memulai bertani. Tanggal 14, hari dengen, baik untuk minta maaf kepada para leluhur (guru piduka) juga kepada para dewa. Tanggal 15, harinya kuddha, sangat baik melakukan pemujaan dan semadi. Apabila belum mawinten (diinisiasi) mengambil lontar utama, ini mantranya: Om bhayaksayam, ludra maheswara, syayam, ya
namah swaha. Lewatkan perihal
Ongkara, ada lagi disebutkan adanya sastra, yang disembah sejak zaman silam,
yang menciptakan semua sastra, seluruh makna suara cecek, ingatlah sabdanya, dewa
siddhi dewanya. Sabda carik, hepepet suaranya,
8a. Siwa Prala dewanya. sabdanya berada di hidung anugerah sadewa Siwa Bharuna. Sabda papadha (carik kalih) nirusa bhara sabdanya. Sabda/ suara surang adalah ntren-ntren, dewa papadha adalah Hyang Siwa paling atas bernama Siwa Bhakti, berupa embusan angin/samirana. Sabda taleng batah sabdanya, Bhatara Sambhu dewatanya. Suara/sabda hulu pada yyam sabdanya, dewanya bernama Sang Siwa Triwana, suara/ sabda re, nran sabdanya, dewa dewatanya. Suara/sabda ban has, raja rahingesting sabdanya, bernama pasahing prama. Semua diam/tertidur, kini tidak disebutkan. Ceritakan perihal Bhatara Guru Purusangkara,
8b. tiba di puncak Hyang Mahameru, dihadap oleh para dewata, seperti Sambu, Brahma, Wisnu, Iswara, Mahadewa, Mahesora, Rudra, Sangkara, Siwa, Catur Loka Phala, Indra, Yama, Bharuna, Kuwera, Panca Rsi, Sang Kosika, Gangga, Metri, Kurusya, Pratanjala, berikut Sapta Rsi, yakni Wasista, Wiswamitra, Anggastya, Gotamma, Bregu, Naradha, dan Jamadagni. Sabda Bhatara: Wahai anakku dewatha semuanya, tenteram kini alam semesta, seratus lima puluh tahun dihuni manusia sekarang. Terasa penuh sesak dunia ini tiada luang, dipenuhi oleh manusia di jagat raya, segala yang diperbuat memang berdasarkan tantu purana, akulah yang menebar penyakit dan kematian, diikuti oleh manusia di jagat raya ini hingga kelak.
9a. Sabda Hyang Guru Purusa Sangkara itu, ditanyakan oleh Bhatara Iswara: Oh Yang Mulia, hamba ingin
bertanya ke hadapan Yang Mulia, perihal kematian hamba, bukankah semua itu
berasal dari Yang Mulia, benarkah itu?
Bhatara Mahadewa, menghaturkan sembah seraya bertanya juga kepada Yang
Mulia, kami sungguh tidak tahu rupaku ketika telah dilebur dengan api. Dilanjutkan oleh Bhatara Wisnu bertanya
kepada Yang Mulia, di manakah tempat hamba untuk dipasupati saat berada di
Bandhusa, hamba-Mu ini diistanakan dalam persandhian, bisakah itu? Bhatara Siwa, dipertanyakan perihal
keberadaan gajahnya, jika diceritakan tentang pengobatan,
9b. diteladani jika Bhatara bukan dari panca limanen, gajah paduka
banyak hamba jumpai di sekitar gunung, tampak lingga patala, di dalam prasadha, simburu, begitulah kebenarannya. Bhatara Maheswara, baginda
bertanya tentang tempat gajahnya dipasupati, putra Bhatara bertanya: Hamba
tidak lain dari segala sumber kebaikan,
bunyi-bunyian, nyanyian, dan gamelan adalah bentuk bunga hamba berbakti ke
hadapan Bhatara Maheswara, itulah kebenarannya.
Bhatara Rudra juga ada pertanyaannya kepada baginda, perihal tempatnya
dipasupati,
10a.Jika telah menjadi gajah, sangat setuju putra paduka Bhatara,
tidak lain dari sifat kesatria dan rasa senang dalam melantunkan kidung, hingga para apsara turut memainkan gamelan, para apsari turut menari, benarkan itu?
Bhatara Sangkara kapan olehnya dihidupkan mayatku, putra paduka
bertanya, hamba tidak lain dari langu
amunra. Benarkah itu hingga para
dewata, diupayakan oleh Bhatara, bahwa itu ketiadaan itu adalah kematian yang
sengsara diikuti oleh Bhatara Mahesora, untuk membahagiakan gajah Bhatara
Girinatha, itu juga dimusnahkan olehnya.
Setelah kematiannya, tampak duduk tenang hingga sangat kagum para dewata
menyaksikan, semua mendekat dan menghaturkan sembah bakti, karena baginda
semuanya berupa guru. Berkatalah baginda jika abhasma gajah,
10b.itu adalah bentuk yasa,
semua nasihat itu telah dipahami oleh para dewata, itu sebabnya para wiku tidak
pernah lepas dari bhasma. Semua terdiam dan senanglah hati Bhatara Guru
seraya bersabda sambil menari: “Aku ingin menjelma menciptakan tri wara, panca wara, sadwara, sapta wara,
hasta wara, nawa wara, tiada lepas dari sifat suka-duka, perilaku
baik-buruk pada manusia, ketiganya itu turun ke bumi loka, Bhatara Guru dan Bhatari, beristana di arah barat laut
desa. Semua telah siaga, di sana beliau
memadu kasih dan bercerita, Sang Wrespati kubagi pada sapta wara, paniron di sadwara, kliwon di pancawara, byantara di triwara, demikian sabda Bhatara Giri
Swara”. Menjawablah Bhatari: “Hamba juga
ikut mencipta saptawara,
11a.soma kutempatkan di saptawara, uma di sangawara,
begitulah kisah awalnya, dicipkan untuk berbuat baik, karena tidak bisa beliau
meraih keberhasilan sempurna. Hal itu
didengar oleh para dewata, sebagai sumbunya adalah wraspati dan soma mengadu
perilaku senang bagi paduka Bhatara, semua itu mesti dipahami oleh seluruh
manusia di dunia. Rupa Sanghyang Kama Dresti, menyerupai seorang
wanita cantik masih muda. Tentu sangat
lihai memadu kasih, hingga terkalahkan Sang Soma, dilihatlah oleh Bhatara
Wisnu, segera mengambil Bhatari Sri untuk turut mencipta saptawara, juga tungleh
pada sadwara, ditempatkan oleh-Nya
pada pancawara, aku mohon ikut juga
mencipta saptawara,
11b.sukra pada saptawara, aryang pada sadwara, waya pada triwara. Ketika tengah di posisi timur laut kini Hyang
Giri Swara, ada yang dikatakan, perihal keberadaan Dewi Sundari di sapta pathala, putra dari sang Antabhoga,
pergi ke arah timur laut, menunggang angsa, setelah tiba di pertapaan Sang
Gurwiswara, segera menduduki lingga
perwujudan Hyang Gurweswara. “Janganlah
kau Basundari tidak layak kau menduduki itu, tidak boleh kamu duduk, pada lingga perwujudanku, sungguh durhaka
pada guru namanya, karena aku telah mengetahui asalmu dari sapta patala, putra Bhagawan Anantabhoga, segera turun Sang
Basundari seraya menyembah, serta berkata Sang Basundhari: “Bagaimana hasrat
paduka (Hyang Guruweswara) pada diriku (Bhasundari), semoga nanti berdampak
pada istri paduka, sambil mengeluarkan
12a.kutukan pada Hyang Gurwiswara, sebagai penyebab mulai sekarang, tidak boleh memakan daging anal dan langan, akan berlipat rambutnya. Kini Bhasundari telah mengetahui tentang Hyang Gurwiswara, bergegas menuju pandharan, seraya berkata dengan nada memelas Hyang Gurwiswara, aku menyukai perilaku seorang wanita, seakanakan terkena panah asmara dari aura Basundhari, semakin mendekat Gurwiswari, berkata Basundhari sambil tidur, seraya melirik Basundhari, seakan bergetar hatinya, hingga melakukan senggama antara Gurwiswara dengan Basundhari. Hal itu dilihat oleh Bhatara Indra, perilaku senggama Gurwiswara, teringat beliau pada ciri-ciri yang ada pada Bhatari Sacci. Konon
12b.Bhatari Sacci masih berada di Kendran, aku sesungguhnya telah
menjelma menjadi Basundhari, kini sebagai istri Gurwiswara, ikut membuat astawara,
pancawara, sadwara. Berkata lagi
Bhatari Sacci, apa penyebab utama menjelma sebagai manusia, katakan asal mulamu
dan siapa namamu kemudian. Sang Radite
pada saptawara, wurukung pada sadwara, paing pada pancawara, dwa pada triwara, bersemadi Bhatara Indra menyatu
pada Basundhari. Basundhari berada di
arah airsania desa (timur laut),
terlahir muda menjadi radite namanya
pada saptawara. Ceritakan perihal Radite, beliau berguru pada Danghyang
Guru Kinwantwa Gannaha, memusatkan pikiran pada Bhatara seraya pergi Sang
Radite mengambil bunga yang ada di persimpangan jalan, mendengarlah Sang Radite
13a.bahwa Basundhari telah tiada, yang dikalahkan oleh upaya
Bhatara Guru, tidak diceritakan. Kemudian terbangun seraya duduk, dan
diteladani oleh dunia, akhirnya berada di Surga, senantiasa berbuat baik Sang
Basundhari, karena Bhatara Guru sebagai penyebabnya. Kini sebutkan ada perilaku Sanghyang Telamuta
Widhi namanya, sebagai wujud dirinya hingga sekarang, telah berbuat baik, aku
melakukan yoga semadi di arah timur laut (ersania),
aku bertapa memakai bunga Sasi Keboklah namanya, ibunya memberi nama, demikian
ceritaku padamu. Menjawab Sang Radite: “Ada petuah Bhatara Guru Prancala”.
Menjawab Bhatara Pretancala: “Kau akan ditiru di jagat raya, juga di seluruh parhyangan,
13b.segala dharmaguna,
terlebih-lebih oleh seluruh pitara,
demikian nasihatku padamu ananda”. Jawab
Sang Radite: “Hamba sangat yakin akan nasihat Bhatara, tentu akan hamba lakukan
semua itu”. Didengar oleh Sang Soma
perihal kematian Sang Basundhari berbicara kepada Sang Buddha dan Sang Sukra:
Wahai anakku berdua, aku beristana di arah tenggara (Gneyan), Sang Basundhari yang telah mati kini berbuat baik, tutur
katanya bagaikan kata-kata seorang bayi, cepatlah ananda Sang Soma”. Kata Sang Soma: “Aku akan segera datang untuk
selidiki semua itu dengan sangat rahasia”.
Apa yang dikatakan Sang Soma, didengar oleh Bhatara Guru Pretancala,
atas kehadiran diri sang Soma untuk merusak upacara yajña, lalu segera Ia muncul karena mendengar ucapan Sang Soma,
jika Sang Basundhari tengah melakukan yajña,
14a.hingga datang di batas luar Bhatara Guru Pratancala, dijumpailah Sang Soma, oleh Bhatara Guru Pratancala, seraya berkata: “Sangat berbahagia aku atas kedatangan ananda Soma, kudengar jika Sang Basundhari membuat upacara yajña, itu sebabnya aku ke sini hanyalah ingin menyaksikan, demikian tutur kata Bhatara Guru Pratancala, memastikan kebenaran upacara itu. Berbahagialah kau bisa hadir ke sini, perjalananmu hingga tiba di sini adalah untuk melenyapkan dosamu, sekaligus membuka jalanmu ke surga. Oleh karena itu, berangkatlah kau Sang Soma dan Sang Radite menuju arah barat daya (neriti), lagi pula Sang Dwansana membenarkan nasihat Bhatara Guru Pratancala”. Sang Soma dan Sang Radite disuruh menjaga keberadaan sang Basundhari. Lalu berangkat Sang Soma dan Sang Radite menuju arah neriti, hingga menemui Sang Guru Pitara (leluhur). Setelah demikian, lalu disuruh
14b.Sang Radite dan Sang Soma membawa lingga prasaddha. Setelah
demikian, berjumpalah Sang Basundhari dengan Sang Soma, lalu berkata Sang Soma
kepada Sang Radite: “Wahai adikku, ibarat di surga pikiranku, melihat upacara yajña sebagaimana petunjuk Tuanku, kata
batinku berkata bahwa aku telah memahami upayanya. Sang Radite melanjutkan perkataannya,
sebaiknya arah barat laut (wayabya)
yang cocok istanaku”. Menjawab Sang Soma: “Jika benar demikian, sepertinya aku
tidak berkenan dan jika berharap, sesungguhnya carik adalah badanku, mohon dikatakan jika hal itu berada pada
diriku”. Dilanjutkan oleh Sang Radite:
“Tidak menyakitkan perilaku itu, seperti kata Sang Soma mengenai asalmuasalnya,
hanyalah ingin melihat agar carik itu
berada pada dirinya, ketika tampak berbahaya,
15a.segera diambil busana Sang Soma oleh Sang Radite, juga busana Sang Radite, hingga layaknya sepasang suami-istri, kedua beradu kasih bersenggama Sang Soma dengan Sang Radite di arah barat daya (nariti desa), disaksikan oleh Bhatara Yama. berkehendak bertemu dengan Sang Soma, turut mencipta saptawara, sadwara, astawara, turun ke dunia mendekati tapa Bhatari, kini aku menjelma pada diri Sang Soma yang beristana di nariti desa (barat daya), saniscara pada saptawara, umanis pada pancawara, was pada sadwara, waya pada triwara, merasuk Sang Yama pada diri Sang Soma, mengidamlah Sang Soma. Setelah demikian, lahir seorang bayi perempuan, berkata Sang Soma: “Wah kenapa perempuan”. “Jangan ragu bunda, aku adalah bayimu. Demikian kata Sang Buddha, yang dijaga oleh
15b.Sang Desa Buddha dalam perjalanan, diikuti oleh Sang Soma, segera tiba di istana Hyang Guru Pretanjala, seraya berkata Sang Soma bersama Sang Buddha: “Mohon maaf, Bhatari Soma melahirkan anak laki-laki”. Segera diambil oleh Danghyang Guru diberi nama Sang Saniscara, dan dengan polosnya bayi itu di pangkuannya, sedikit ganjil dirasakan oleh Hyang Guru setelah bayi itu diperhatikan secara seksama. Setelah terbukti bahwa bayi itu perempuan, sangat marah Hyang Guru terlebih telah diberi nama Sang Saniscara, lalu dikutuk Sang Buddha sebagaimana kehendak bayi itu, berupa laki-laki namun tidak laki-laki, perempuan namun tidak perempuan. Itu diberikan pada Sang Buddha perihal kebijakannya, sedangkan rakyat Sang Sanescara dilempar ke arah selatan (kidul) disambut oleh Bhatara Brahma. Tiba-tiba datang Sang Sukra
16a.bersama Sang Radite, terasa kaget perasaan Sang Sukra atas
keberadaan istana Sang Radite, tampak sangat sepi, tiada orang yang bekerja,
akhirnya masuk ke istana Sang Sukra juga tidak terlihat Sang Radite yang memang
tidak berada di istana Sang Sukra.
Dijumpai Sang Radite yang baru saja melakukan pemujaan. Setelah dilihat Sang Sukra, lalu berkata Sang
Radite: “Wahai Sukra, aku sangat menghapkanmu, jika tidak berkenan, jangan kau
lakukan”! Menjawab Sang Sukra kepada
Sang Radite, sangat berbahagia bertemu denganmu, aku akan segera pulang dan mengatakan
pada kakakku Sang Buddha. Setelah
demikian, segera dipeluk oleh Sang Radite, menangis Sang Sukra di pangkuannya,
lalu pelan-pelan dibuka busananya, selanjutnya beradu kasih bersenggama di
sebuah gubuk.
16b. Terlihat oleh Bhatara
Rudra, memohon kepada Bhatari Parwati, katanya: “Hamba menjelma pada Sang Sukra
suami Sang Radite di gubuk, turut aktif mencipta saptawara, triwara,
perihal namanya kemudian, anggara
pada saptawara, mahulu pada sadwara, dora pada triwara. Menghilang Hyang
Rudra merasuki Sang Sukra, ketika beradu kasih, terasa kalah Sang Sukra,
diketahui oleh Sang Buddha. Dikutuk Sang
Sukra agar segera mengandung, menghitam di seputar payudaranya. Menjawab Sang Sukra mendengar pengakuan Sang
Radite: “Mengapa kau tidak menjerit”.
Berkata Sang Sukra: “Sesungguhnya aku menjerit, tetapi tidak terdengah
olehmu”. Dijawab oleh Sang Buddha:
“Semoga kau setelah lahir menjadi seorang laki-laki, bernama
17a.Sang Anggara, mahulu pada sadwara, dora pada triwara, berkumpul ketiganya di arah barat laut (Wayabya), yakni Sang Radite, Sang Sukra, Sang Buddha, ketiganya saling berdialog, gagasan Sang Radite membuat marah Sang Buddha, juga pikiran Sang Sukra. Berkata Sang Buddha, apa yang kau hendaki Radite”. Bertanya Sang Wrehaspati kepada Sang Sanescara: “Di mana keberadaan sungku mas, mengapa tidak kau bagikan pada diriku, berarti telah adah ketidakjujuran (dusta) di sini, janganlah ragu atau kurang percaya padaku sebagaimana terlintas pada pikiran Bhatara, janganlah demikian, oh Sang Sanescara, dipertegas oleh Sang Buddha, perlakukan pada Sang Anggara, mencari prasaddha Sang Basundhari, perhatikan secara saksama agar diketahui sumbernya,
17b.mengapa tampak sesuatu di tengah samudra, bukankah itu prasaddha milik ibumu, menuju arah barat laut (wayabiya), dan masih hidup mereka semuanya, seperti diliputi kegelapan sifat Sang Rawu, setiap kliwon malam berperang, aku selalu siaga membawa air, itulah selalu diminumnya”. Demikian kata Sang Sanescara, menggelar yoga dengan sarana air, hingga muncul air bah dari arah tenggara (gneyan), mengalir terus membuat rasa takut yang mendalam, kau Sang Sanescara, di mana kau taruh sangku itu, yang terbuat dari emas utama”. “Oh masih baginda, hamba telah menjaga dengan baik,
18a.janganlah ragu pada kami, lawanlah aku seorang, dan percayalah. Tentang Sang Sanescara itu telah diambil oleh Sang Buddha, dipertemukan pada Sang Anggara. Sang Anggara segera pergi menuju istana ibunya Sang Basundhari, dengan teguhnya beristana di sana, namun ketika samudra tampak surut, ternyata istana itu bukan milik ibunya, lalu pergi mengarah barat laut (wayabya). Di sana mereka hidup bersama, tiba-tiba menjadi mabuk karena ulah Sang Rawu, karena itu Kliwon lalu berperang saat malam hari, sementara aku masih bergelut dengan air, hingga bangkit nafsunya air, di mana anakku, demikian kata Sang Sanescara. Lalu dibisiki mereka yang berjumlah enam itu, agar berperang melawan Sang Rawu. Tujuh malam lamanya Sang Sanescara melakukan perang yoga air,
18b.keluar air bah dari arah tenggara (gneya desa), mengalir dengan deras sangat menakutkan, jernih namun tidak jernih, itulah hasil yoga air Sang Sanescara. Sangat ramai perang Sang Saptawara, saling serang, sama-sama tangguh, tidak ada yang mundur, sangat ramai perang malam itu, hingga tujuh malam lamanya Sang Kala Rawu belum terkalahkan. Tiba saatnya Sang Sanescara merubah khasiat air yang muncul dari arah selatan, dengan khusyuk beryoga sang Sanescara, hingga khasiat air itu berubah menjadi racun yang tiada obatnya, segera diminum oleh Sang Kala Rawu air racun ciptaan Sang Sanescara. Setelah Sang Kala Rawu mati, lalu diambilkan periuk sebagai tempat penghalang rasa panas hingga seluruh dunia, tunggangan berupa burung kiroya dijadikan wahana diberi nama kambala singa, seluruh anaknya tampak muntaber, tubuhnya panas, buta raja perilakunya.
19a.Bhagawan Wrehaspati menjadi Radite, wahananya mina, kayunya beringin, burungnya mayura, wayangnya tidhung. sang radite lalu mencipta rsi, mesa, kayunya
menjulang tinggi, burungnya siyung,
wayangnya tinggi kurus (jangkung). Sang Soma mencipta rasi, micika, makara, kayunya kepuh, burungnya gagak wayangnya panji. Sang Anggara mencipta
rasi, danuh kayu rangre, burungnya dara, wayangnya kawela. Sang Sukra menjadi rasi, minuna kayu dawudi,
wayangnya lenggak. Sang Sanescara menjadi rasi rakata, kayunya pule, burungnya jangku, wayangnya gole. Saling berdialog saat semua berkumpul,
melakukan pemujaan dan semadi,
19b.sama-sama melakukan tapabrata, untuk keselamatan dunia, semuanya
serba murah yang menjadi makanan, demikian perilakunya semua senantiasa
menghajap Bhatara Guru, berbakti dan memuja, semua telah paham akan segala
pengetahuan, yakni Sang Radite memiliki aji
karana dan padatya, Soma memiliki
aji jalantara raga prawesya, Buddha
memiliki aji duradarsa-duradarsi, Sukra memiliki aji panca urip, ragapanna, Saniscara
memiliki aji durancana dan semua pramesa.
Itulah wujud kemanunggalan Radite Kliwon berepatan dengan uma, yang meniru pepet
itu urungan ibarat lautan, segala
biji-bijian yang tertanam dijaga pada sawah ladang
20a.ibarat memelihara bayi sebagai upaya meraih emas perak, Senin (candra) umanis bertemu uma sranggana
wunu, membuat ranjau dan sawu
(jaring), sumur dibuat saat tulus
bertemu mangu, demikian saat mina rasi
baik untuk menanam pisang, padi, kelapa, dan biji-bijian walau secara
terburu-buru. Itulah aku ikut menghajap kebenaran memberi keselamatan. Selasa paing bertemu indra, disebut sungga bancang
tinajul asu, jangan halangi guru, rakata rasa namanya itu, segala pekerjaan berhasil, karena musuh
telah tertutup orang yang berhasrat mengamuk, segala pekerjaan yang berkaitan
dengan penanaman tidak akan selamat.
Pada Rabu pon bertemu dengan guru, dangu, dan titi buuk, singha rasi, adalah saat perjalanan wanita, pohon kapas kembar serba
bebijian, turus, berdampak selamat
berburu, baik untuk membeli bibit padi
20b.untuk ladang dan persawahan.
Kamis wage itu adalah aryang yama jangur rasinya, menga urukung rasinya danuh
sri wreddhi mas itu, mesti melakukan bhuta
yajña (caru) pada jineng untuk keselamatan, mustika munggah namanya, baik untuk menanam segala bebijian, buah-buahan
agar berhasil, memulai menanam di sawah ladang, akan menjadi kuat dan
selamat. Hari Sabtu adalah bertemu
dengan brahma umanis paniron sri
tka namanya, nohan, pepet,
mrecika rasinya, segala padi
baik untuk punia rahayu, itu tidak baik dikatakan karena berdampak
21a.buruk hingga menemui ajal nantinya. Wuku Dunggulan, yakni pada Radite
paing dunggulan dan ogan itu peped rasinya danu wija,
segala buahbuahan kuat, baik untuk menuai bibit menjadikan bayi bahagia, juga
baik untuk bayar utang. Anggara Wage adalah tungleh, kata-kata kasar disasar maling, baik juga untuk pembibitan
di sawah ladang, sangat cepat tumbuhnya, karena segala bhuta kumba rasinya itu. Buddha Kliwon itu adalah uma aryang pepet tulus rasinya,
21b.segala biji kapas sangat baik ditanam, sangat baik untuk
menaikkan padi, diiringi dengan puja carik
pamali pitara. Wrehaspati umanis
itu adalah sri menjadi kajeng urukung sengkan rasugati namanya,
pepet baik untuk menaikkan padi,
karena mesa rasinya, baik untuk
menanam kelapa, pinang, labu, juga segala bebijian sebagai awal penanaman di
sawah ladang. Sukra Paing dangu
dihantui oleh roda titi buuk lawang, pinayu rasada rasi-nya, pepet itu baik menanam segala bebijian
dan buah-buahan, juga untuk berburu meraih kehidupan yang berawal dari sawah
ladang. Sanescara Pon adalah guru was
mahulu, rasinya adalah mintuna, jangur sri yang dipayungi oleh pepet,
sangat baik untuk bercocok tanam, juga baik untuk segala biji-bijian, berburu
mencari mreta yang diawali di sawah
ladang.
22a.Sanescara Pon adalah guru was mahulu, rasinya adalah mintuna, jangur sri yang dipayungi
oleh pepet, sangat baik untuk menanam
serba berbuku seperti bambu, baik untuk menaikkan padi ke lumbung, dan
dipercaya untuk berutang. Pada Radite
Wage Kuningan adalah yama siwa buuk
tulus, rasinya danuh kala bancang
tangun, ingkel gulu mangkon mastiku
carwwana masayu gigis menga, mangko rakata rasi itu, Sang Asta kini turun
segala bebijian dan buah-buahan baik ditanam dan selamat, bisa bayar utang,
bisa meminjam, bisa membagi jika bisa membeli, yang wanita selamat. Soma Kliwon
ini adalah tungleh ludra, tutut asih namanya, nohan pepet, itu baik membuat rumah, baik
untuk upacara bayi, baik untuk pembibitan di sawah ladang, menaikkan padi juga
baik,
22b.beralaskan keris, baik untuk mengikat kerbau dan sapi, Brahma
dewanya Anggara, umanis ogan menga
bertambah emasnya buat seperti wanita rasi-nya,
disertai pepet baik untuk menanam pohon kepah
dan biji-bijian, menaikan padi, bayar utang bisa berhasil, karena bertemu
dengan laba, segala pemujaan
berhasil. Wrehaspati Pon adalah uma, pembibitan paniron, menga itu urungan bertemu mrecika rasi ngong, baik untuk bakar glagah sawah ladang, berhasil
dalam berburu, berbahaya jika pada jalur yang tidak benar, disebut tidak
berguru membunuh binatang. Sukra wage membawa sri titi buwuk tulus rasinya
danuh kala bancang tangun, ingkel gulu makanya segala yang berbuku menghormat, juga buahbuahan dan
labu, bisa bayar utang karena perbuatan baik si kerbau sapi.
23a.Saniscara Kliwon kama
moluhing nremakara rasi itu, karena resana
pasu menjadi pepet, hal itu tunggal tuju
masang wedhus (kambing) mustika namanya,
sangat baik untuk menaikkan padi di pagi hari.
Radite umanis langkir itu
bertemu tungleh guru langkir, itu lawang tanji payukumba rasi dangu banu urung,
baik untuk menanam tebu kencur lempuyang, baik untuk menaikkan padi. Soma paing aryang yama mbanana rasinya, baik untuk menanam segala buah,
biji-bijian, dan tembakau akan berhasil dengan sempurna dan membawa
kebahagiaan, juga di sawah ladang.
Anggara pon gigis ludra adalah
pepet, itu sri rangkep lungha ayu
23b.meras rasi pepet, itu
bisa dinaiki kala gumarang pering tebu
ditanam, kerbau sapi, kijang sama besarnya berhasil diburu. Buddha wage brahma nohan paniron sri bagia rasaba, rasinya pepet buah yang berbiji, itu kawreta
dan angtirisan itu, sama dengan
menanam dan berburu sangat baik. Wrehaspati
kliwon ogan menga itu mintuna rasinya titi buuk, baik
untuk membuat jaring karena ingkel-nya
manuk, baik juga untuk menanam segala
buah dan bebijian. Sukra umanis molu ludra erangan menga, itu rakata rasi-nya, sri gati turun, segalanya baik, segala ditanam baik, juga baik
untuk berburu.
24a.Saniscara paing itu adalah tungleh
sri urungan itu rasi singha, itu pepet mantra wangun namanya, baik untuk membuat senjata, segala pekerjaan
berhasil, selain itu banyak yang telah tidak baik. Radite pon medangsia, aryang indra bertemu tulus,
itu mina, rasinya kala ingsor. Baik untuk menanam segala yang bisa melilit
pohon kayu, baik untuk dipakai bahan bangunan asal tepat waktunya, namun tidak
baik ceritanya. Soma wage guru dadi
urukung kajeng, itu bernama sri peneh
pawarangan wot pepen mangata rasi-nya,
baik untuk pembibitan di sawah ladang, juga baik
24b.menaikkan padi dan segala pekerjaan baik. Anggara kliwon adalah panirwan nrecika rasinya dangu urungan pepet, mencari binatang
berhasil, dapat bayar utang, namun tidak baik ceritanya. Buddha umanis ludra pepet dhanuh rasi-nya. Baik untuk membuat sumur dan telaga, bisa
membayar utang, biji-bijian tumbuh dengan subur, baik untuk berburu,
mendapatkan teman yang satu ide, baik juga untuk menaikkan padi di jineng.
Wrehaspati paing itu adalah ulu
brahma guntur umah namanya, baik untuk cari rumah, baik untuk pembibitan,
itu asu ajag awal dari perbuatan baik
25a.tula rasi-nya. Ini segala wuku kelahiran semua orang, perhatikan baikburuknya manusia,
seperti: Sinta watek-nya 10, urip-nya 5, pangawak laki, penjelmaan salah perilaku, laba-laba, daerahnya luwang, lebah galintung, kayunya karoya,
burungnya jangkung tangis alon
binatangnya, lintang bukal/kelelawar,
badannya agak lebar, kulitnya putih, mukanya lebar, rambutnya agak merah, tajam
penglihatannya, manis tutur katanya, baik perilakunya, tinggi badannya terpuji,
lehernya bagus, gemulai badannya, tangannya halus, ada tanda (kadengan) di pinggangnya, pantatnya agak
ke kanan, lucu bawannya, suka dengan wanita,
25b.berperilaku aneh, perokok, di luar desa selalu mengumbar nafsu,
cekatan menghitung miliknya, ulet bekerja, kikir, pintar bercerita, irit dengan
pakaian, menggoda orang, daerahnya penyebab sakit, seperti singkel, udhug, borok, koreng, parang hingga tangannya. Itu mesti diwaspadai oleh yang lahir pada wuku sinta, juga urip-nya. Perlunya waspada,
karena Sang Sinta disakiti oleh Sang Kala Kakawa, tidak tekun di desanya, mesti
dilebur/dilukat, sakit Sang Sinta itu, selalu menguap, sesak ulu hatinya,
pingsan, pekarangannya buruk, gampang masuk orang berniat busuk, hingga
dirasuki rasa, sebelah utara
pekarangannya,
26a.sangat lama tidak pernah dilalui, itulah yang selalu
mengganggu, belum lagi pagarnya saling suduk,
ada batu yang dirajah, di bawah tempat tidur, selalu gelisah di tempat tidur,
pintunya kendala terbalik, itu yang mengganggu dan pesimpenan gedong menga,
lumbung menga, dilanda rasa sedih
karena dililit utang, ketika upacara mendem
padagingan, mesti dengan babi guling dan rantasan (kain putih-kuning), simbol kakek dan neneknya,
pembersihannya, mandi terkurung di tepi jalan raya dengan air 10 warna berikut
tempatnya, dipuja oleh siwa bwaneswara.
Sang
Landep watek-nya 9, urip-nya 3, pangawak laki, penjelmaan Sang Kala Warayang, daerahnya klok pinggir, kayunya curiga,
26b.burungnya garuda (manuk raja), binatangnya badak (warak), lintangnya senjata, Sang Landhep ini berbadan gilik, agak kekuningan wajahnya, agak berkerut wajahnya, tajam penglihatannya, alisnya tebal hitam, telinganya biasa, agak mancung hidungnya, tidak terlalu tinggi atau tidak terlalu pendek, lehernya jelas, gemulai perilakunya, pinggangnya kecil, agak lurus kakinya, perilakunya terpuji, ibarat gilingan satandheg, manis tutur katanya, sosial terhadap miliknya, berpikiran tenang, tak tentu tujuannya, suka terhadap teman laki, agak dingin dengan wanita, ada tanda (kadengan) di pantatnya, sarat akan wajah budi pekerti dan bijaksana, berpengetahuan, namun tempatnya penyebab sakit,
27a.sakitnya muntaber, batuk, tak jelas penglihatannya, tuli, bisu,
gelisah, sakit ulu hati, dan perut kembung, mengecil ucapannya. Itu mesti diwaspadai oleh Sang Landhep
berikut urip-nya, perlunya
berhati-hati Sang Landhep, karena disakiti oleh Sang Kala Warayang, disakiti
akibat pekerjaannya selalu berkoar-koar, segera mesti dilukat sakit Sang
Landhep ini, sakitnya selalu ingin kencing (anyang-anyangan),
nafas tidak teratur (runtag), tempat
tinggalnya panas, terkena aura negatif bekas tempat perang, giginya manusia,
sahaya kepiting, di seluruh pekarangannya, tembus pintu masuk dengan pintu ke
belakang, rumahnya tak teratur, temboknya pecah, ada bekas pohon dan batangnya
tertanam, menjadi rumah rayap. Itu mesti diwaspadai penyakit
27b.Sang Landhep, mandi terkurung di sanggar dengan air 9 warna berikut tempatnya, dipuja oleh Siwa
Gmana. Sang Wukir watek-nya 14 urip-nya 7, berbadan Hyang Danurdhana, penjelmaan Sang kala Guna,
seorang lakilaki Sang Wukir, ibarat durian terbelah wajahnya, agak ke dalam
matanya, tebal alisnya, dahinya lebar, agak lebar telinganya, agak berdiri
rambutnya, berleher pendek, kepalanya sering bergerak, agak bisu, pendiam dan
besar ucapannya, tinggi badannya, ada serat pada badannya yang tinggi, ada
tanda di kepalanya, kekuning-kuningan kulitnya, ibarat kosigama, tidak serius wajahnya, manis tutur katanya, tangannya
agak bengkok (siku lwang),
kemaluannya ada tanda (kadengan) di
kanan, kakinya agak besar,
28a.ulahnya selalu lapar, kayunya jengking, burungnya garuda, binatangnya mengkih-mengkih, lintang-nya
gajah mina. Itu mesti diwaspadai watek dan urip-nya,
perlunya diwaspadai karena Sang Wukir disakiti oleh Sang Kala Guna, karena
rumahnya menyudut, sebelah selatan jalan sang
labak, pesimpenan gedong
tertutup, lumbung menga, kehidupan
Sang Wukir diganggu oleh Sang Kala Guna, nantinya Sang Wukir disakiti oleh Sang
Kala Guna. Adapun penyakit Sang wukir,
batuk sangar, moro, deyod, mengeng
kalelepan, rasa byanen, adug, rumahnya dikenai sesuatu oleh manusia, ujung
tempat tidurnya tampak buaya menguap, sunduknya pecah, tiangnya terluka, agak
miring, pintunya
28b.cacat, pekarangannya jelek, temboknya terbelah, tempat tidurnya
terapit pintu, ada tunggak di pekarangannya juga batang pohon tertanam, sebelah
selatan tempat tidurnya, yayakapa
mragattha, di bawah minumannya, pagarnya berliku-liku, dan berutang pada
kumpinya dari karmanya, itu penyebabnya penyakit, melewati pamali, air, sehingga sakitnya gelisah, tidak betah bekerja, mencintai
miliknya, pikirannya terbagi, demikian di pekarangannya. Segera dilukat di tepi samudra, dengan air
yang terkurung periuk baru sebanyak 14, dipuja oleh Siwagmana. Sang Kulantir, watek-nya 20 urip-nya 3
berbadan sinar, penjelmaan Sang Kala Raregek, tempatnya
29a.kakarang, kayunya randhu, burungnya perkutut (kitiran), binatangnya rase, lintang kukusan, Sang Kurantir itu
seorang wanita, agak bulat wajahnya, selalu ingin tidur, polos mukanya,
telinganya ibarat terbentuk, badannya kurus, perilakunya tidak tenang, kurang
rupawan, penglihatannya sendu, pikirannya tajam, tuntas menghitung miliknya,
tahu tata krama, di baga rasa
kendalanya, sakit randha kacurnan, pesimpenan gedong tertutup, lumbung
rusak, keberadaan Sang Kurantil, paham akan makna tutur. Itu mesti diwaspadai
oleh Sang Kurantil dan urip-nya, Sang
Kurantil disakiti oleh Sang Kala Reregek, akibat disakiti hingga
29b.tubuhnya sangat kurus Sang Kurantil, mesti segera dilukat/disucikan
Sang Kurantil, terpaku dan lemah, pekarangannya penyebab sakit, dirasuki oleh
racun hingga mati rasa, dapat dilebur di dekat samudra dengan air 20 warna
berikut tempatnya, dipuja oleh Siwa
Ghamana. Sang Tolu wateknya 7, tanpa urip, penjelmaan Sang Anglalawang, palemahan anglarung,
kayunya tanguli, burungnya tinggili, binatangnya gigili, lintang laweyan, laki-laki Sang Tolu, berparas kera, rambutnya mudah
diatur, badannya tampak bersih, langkapa
kekurangannya, tinggi badannya, pemakan sirih sri katalwan, agak tuli,
30a.pada kemaluan cacatnya, gedong
tertutup, lumbung tatel, suka
bepergian mencari pacar, hingga akhir hidupnya.
Itu diwaspadai oleh watek
Tolu, mengapa harus waspada, karena disakiti oleh Sang Kala Anglawang, itu yang
merasuk pada dirinya. Adapun jenis sakit
Sang Tolu, pelupa, lesu, lemah gemulai, hingga rumpuh/strok, terkena tluh,
pekarangannya dikitari, ada tertanam di tengah, di timur laut, timur, sarana
telur, dan tulang anak bebek (meri),
dibungkus dengan kapas, penyebab pintu masuk cacat, lambangnya cacat, lantainya pecah, lebarnya tidak merata, tiangnya
berlubang, dirusak rayap, jika tidak disucikan segera berdampak tertuduh,
30b.mesti dilukat/disucikan, penawarnya periuk tempurung kelapa,
dimandikan terkurung di pintu masuk, dipuja oleh Siwaghni, dianugrahi lindhu
gamana. Sang Gumbreg, watek-nya 7 tanpa urip, menjadi Sang Wriga Gemet, tempatnya berupa gundukan, kayunya tangguli, binatangnya macan, lintang lintang/bintang, laki-laki Sang Gumbreg, kecil wajahnya, ikal rambutnya,
matanya besar, wilis warnanya, besar
kepalanya, telinganya tidak sama, mengge
perilakunya, kurang jelas tutur katanya, kikir terhadap miliknya, kendalanya di
mata, juga di bagian kepala, pesimpenan
gedong menga, lumbung menga, pawriti-nya ngareh gagaman. Itu diwaspadai Sang Gumbreg yang diganggu
oleh Sang Wariga Gemet, penyebab disakiti karena
31a.berlebihan cita-cita, penyakitnya Sang Gumbreg adalah rasa, di
punggung, sesak muntaber, gemetar, seluruh pekarangan jelak, juga tempat
tidurnya tidak teratur, berlubang-lubang, galar-nya
terpotongpotong, dicampur dengan guna,
ada yang menjaga, sarana pepaya madhu maja, ditanam di jalan berupa gundukan
Sang Wariga Gemet melewati, dilebur sebagai penawar sakit, dimandikan di jalan
dengan air 7 warna berikut tempatnya, dipuja dengan periuk tulang kelapa dan
dihajap Hyang Siwaghni, disertai anugerah marga
gmana. Sang Wariga watek-nya 14, urip-nya 7
penjelmaan Sang Suka Kala, tempatnya Gunung Garawang, kayunya beringin,
burungnya garuda, binatangnya badak/warak,
lintangnya senjata,
31b.Sang Wariga itu laki-laki, berwajah hitam, jarang rambutnya,
kurang rata (gingsul) giginya, agak
merah warna kulitnya, berbadan kuat, lincah perilakunya, suaranya besar, suka
memimpin, tidak ikhlas dengan miliknya, terhadap orang dari jauh, bermasalah
pada perut dan kepalanya, pesimpenan
gedong gemet lumbung rusak,
dampaknya semakin berkurang pengetahuannya.
Itu mesti diwaspadai oleh Sang Wariga dan urip-nya, karena Sang Wariga disakiti oleh Sang Kala Guna, alasan
disakiti karena tidak pernah ingat akan sanak keluarganya, sebaiknya segera
dilukat, sakitnya Sang Wariga berupa batuk kembung perutnya, terasa panas. Sarananya galar
dirajah diikat dengan benang hitam, ditanam di perapatan agung.
32a.Itu harus diwaspadai bagi watek
wariga dan urip-nya, sarananya periuk
tempurung kelapa (kawu), dimandikan
di tengah air mengalir dan dikurung, dilebur dengan tirta gmana dengan air 14 warna berikut tempatnya. Sang Warigadian watek-nya 18, urip-nya 11, bersifat gendarwa,
penjelmaan Sang Kala Agaddha, bertempat di gundukan, kayunya dutut, burungnya drakuku, binatangnya gajah, lintang
jala, berwujud laki-laki Sang Warigadian, berlagak raja, tidak ikhlas
dengan miliknya, tiada mau mengalah pikirannya, masalahnya di kepala dan di
kaki, pesimpenan gedong tertutup,
hobinya berdagang.
32b.Itu mesti diwaspadai oleh watek
Warigadian, mengapa demikian karena Sang Warigadian disakiti oleh Sang Kala
Nggaddha. Penyakit Sang Warigadian: sakit gatal, gemetar, perut kembung,
gondok, kena desti, penglihatan tidak
jelas. Semua itu muncul karena kendala
pada pekarangannya, penetral penyakitnya
itu mesti dimandikan terkurung di setra
(kuburan) gandarwa, dengan air 18
warna berikut tempatnya, dipuja oleh Siwa Gni.
Sang Julungwangi watek-nya
14, urip-nya 8, berbentuk sinar,
penjelmaan Sang Kala Pratanjala, tempatnya daratan bersih, pandangannya sayu, pesimpenan gedong menga, lumbung suwung/sepi,
kesenangannya bepergian. Itu mesti
diperhatikan oleh watek Julungwangi
33a.dan urip-nya. Mengapa mesti hati-hati, karena Sang
Julungwangi disakiti oleh Sang Kala Pratanjala, disakiti dengan melepas desti yang selalu merusak, segera mesti
dilebur/dilukat sakitnya itu. Penyakit
Sang Julungwangi: sakit pinggang, batuk, sakit kepala dan kaki, pelupa,
lemah. Penyebab sakitnya adalah karena
dikitari jalan, juga pintu masuk, dipan
serta tiangnya jelek. Dapat dinetralkan
sakitnya dengan mandi terkurung di dalam air disertai air 14 warna berikut
tempatnya, dipuja oleh Sibharunna. Julung
Sungsang watek-nya 32, urip-nya 11, berbadan Sang Kala Saji,
penjelmaan Sang Kala Langsar, tempatnya rimbun, lembab oleh pepohonannya,
burungnya jalak, binatangnya kuda, lintang
salah ukur,
33b.Sang Julung Sungsang adalah wanita, agak
gilik/kecil wajahnya, agak kecil
dagunya, rambutnya tutut/penurut agak
hijau warnanya, berbadan tinggi, telinganya tidak sama, berpikiran cemburu, sulit
ditafsirkan perasaannya, kesatria perilakunya, pesimpenan gedong mengan, lumbung berisi, kesenangannya bepergian
ibarat orang laki-laki. Berhati-hatilah
sang watek Julung Sungsang dan urip-nya,
karena disakiti oleh Sang Kala Saji, oleh karena selalu memohon kesukaan orang,
segera pergi untuk dilebur, sakitnya: di kepala, kaki, lambung, perut, limpa,
seluruh urat. Semua sakitnya itu akibat kaulnya terdahulu ketika berputra,
senantiasa diganggu olehnya, juga jalan ke arah timur salah, orang itu terasa panas,
dan berisi air di bagian hulu.
34a.Penyembuhan sakitnya, dengan cara mandi di bawah tempat tidur
dengan air 32 warna berikut tempatnya dalam keadaan terkurung, dipuja oleh Siwa
Lingga. Sang Dunggulan, watek-nya 32, urip-nya 5, bersifat lakilaki, penjelmaan bhuta Dengen, tempatnya bundhung,
kayunya lohandha, burungnya kadawa, binatangnya garuda, lintang panangin, wajahnya agak panjang, berambut lebat, warnanya agak
hijau, pendek postur tubuhnya, pesimpenan
gedong terkunci, lumbung penuh, kesenangannya pergi ke sawah. Berhati-hatilah bagi watek Dunggulan juga
hidupnya, perut sering kembung/wegah,
yang telah lama dideritanya, hingga lamakelamaan menjadi strok, disakiti oleh
34b.Sang Kala Dengen. Itu
sebabnya mesti diwaspadai oleh watek Dunggulan, linuddhing kadangkan turut menyakiti, juga akibat desti dan pintu masuknya lurungan, tidak ada lubang di
pekarangannya, mesti segera dilukat, dinetralkan dengan cara mandi terkurung di
pintu masuk dengan air 32 warna berikut tempatnya, dipuja oleh Lindhu Gmana. Sang Kuningan watek-nya 15, urip-nya 9,
bersifat Sang Kala Hawon, penjelmaan Sang Kala Durggha. Tempatnya angker, kayunya kepuh, burungnya kapudang, binatangnya kucing, lintang-nya
kukusan. Wanita Sang Kuningan, agak tutut/mudah
diatur rambutnya, agak merah warnanya, di timur sakitnya, bersifat kikir
terhadap miliknya, 35a.penyembuhannya
pada mulut dan mata, pesimpenan gedong
tertutup, lumbung menga, hobinya
hanya memerintah orang. Itu yang mesti
diwaspadai, mengapa demikian karena Sang
Kuningan disakiti oleh Sang Kala Dengen.
Disakitinya akibat sering mengikat orang, mesti segera
dinetralkan/dilukat. Penyakit Sang Kuningan: terasa kaku, sesak napas,
ngambek/mameta, terasa mual-mual, kerongkongan terasa pahit, tibatiba badannya
panas, disebabkan oleh pohon beringin turut menyakiti. Pengobatannya dengan
mandi terkurung di bawah pohon beringin, dengan air 15 warna berikut tempatnya,
dipuja oleh Siwagmana. Sang Langkir watek-nya 11, urip-nya 4
bersifat sang walaka, penjelmaan Sang
35b.Kala
Langkah, daerahnya melingkar, kayunya kalakpa,
burungnya calilingan, binatangnya lembu, lintang-nya uluka, Sang Langkir adalah laki-laki, bermuka
bulat, rambutnya besar-besar, agak lebar langkahnya, tajam pendengarannya,
bercita-cita luhur, pesimpenan gedong
menga, lumbung berisi, kesukaannya
berdagang dan berlayar. Berhati-hatilah
terhadap semua itu untuk watek Sang langkir
dan hidupnya, mengapa demikian karena bertemu dengan hal suka-duka, Sang Langkir disakiti oleh Sang Kala
Langkah, akibat sering walak. Penyembuhannya dengan melakukan panglukatan/peleburan sakitnya, yakni
pelupa, lemah tenaganya, menyendiri, badannya kaku hingga
36a.strok/rumpuh,
korengan, kulit kering, sakit karena rumahnya dikitari jalan, akhirnya lumpuh/strok, kedinginan dan gemul; lambang serta likah tempat
tidurnya tercemar, disakiti oleh seseorang yang berasal dari keluarga wanita,
karena ulahnya sangat kaku. Dapat
disembuhkan mesti mandi terkurung di bawah papanekan
dengan air 11 warna berikut tempatnya, dipuja oleh Wanagamana. Sang
Medangsya, watek-nya 27, urip-nya 6, berkarakter seperti Sang
Pandhu, penjelmaan Sang Kala Yaksa, sempit wilayahnya, kayunya pohon asem,
burungnya sandang lawe, binatangnya
duyung, lintang-nya syang, Sang Medangsya adalah wanita, agak judes wajahnya, telinganya tidak
sama, rambutnya mudah ubanan karena rambutnya besar-besar, berkulit kuning,
36b.berbadan kuat, perawakannya sedang-sedang, berpikiran sejuk, pesimpenan gedong terkunci, lumbung
tertutup terkadang terbuka, kegemarannya senantiasa berkehendak bahagia. Itu mesti diwasdai bagi watek Medangsya, yang
diganggu oleh Sang Kala Yaksa, segera dilebur penyakitnya yang terasa nyeri
perut, batuk, sakit kepala dan kaki, hingga sakit mata, serta mendengkul
diganggu oleh buta Dengen seakan
terkalahkan mantranya. Ada kaul dari
leluhurnya terdahulu, tidak terbayarkan, itu yang mengganggu, dinetraliskan
dengan mandi pada pintu masuk terkurung, dipuja oleh Lindhu Gamana. Sang Pujut wateknya 21, urip-nya 7, bersifat Sang Pratanjala, penjelmaan Sang Kala Mamali,
sangat lemah wilayahnya,
37a.kayunya pule, burungnya jalak, binatangnya palung, lintang-nya dapet, laki-laki Sang Pujut, lonjong mukanya, agak lebar mulutnya, rambutnya mudah
diatur, rupawan, berbadan tinggi, berwibawa, pesimpenan gedong berisi, lumbung tertutup, sering dihina
orang. Itu mesti diwasdai bagi watek Sang Pujut, karena disakiti oleh Sang Pamali, mengapa disakiti
karena sering disakiti orang, setelah dilebur, penyakitnya di pencernaan,
menyendiri, rumpuh/strok, tersakiti
karena pagarnya tidak teratur serta dikitari oleh jalan, rumah dan lambang dan
likahnya sama-sama jelek, pintu masuk dipait pintu, rumahnya diganggu oleh
akar, sakitnya mesti dilebur dengan mandi terkurung pada
37b. jalan welala, dipuja
oleh setra gamana. Sang Pahang watek-nya 12, uripnya 5,
bersifat eka kawi, penjelmaan Sang
Kala Api, wilayahnya paher, pohonnya
kayu pala, burung drekuku, binatangnya ular, lintang-nya prahu pegat. Sang Pahang
adalah tidak laki-laki juga tidak perempuan (banci). bundar wajahnya, kuat
rambutnya, telinganya piduk, kulitnya
salah rupa, berbadan kaku, suka dipuji jiwanya, pada karaswa gangguannya, pesimpenan
gedong terkunci, lumbung tertutup, kelemahannya pada pekerjaannya. Itu mesti diwaspadai, mengapa diwaspadai
karena Sang Pahang disakiti oleh Sang Kala Api, sebabnya diganggu, karena
sering berulah dalam pekerjaan, itu mesti segera dilebur penyakit Sang Pahang,
seperti: perut kembung dan
38a.terasa panas, diganggu oleh leluhur dan pamali, pagarnya semrawut, terjepit terkena pepasangan hingga termakan, tetangga arah selatan juga mendekat, penyembuhannya mesti mandi terkurung disertai rajang gni. Sang Krulut watek-nya 14, urip-nya 7, bersifat Korawa, penjelmaan Sang Kala Hluwarah, daerahnya sungai, kayunya kowang, burungnya lawadan, binatangnya musang, Sang Krulut adalah laki-laki, agak bungkuk, bulat wajahnya, sering berjamur telinganya, berbadan agak kaku, berwajah berwibawa, agak pendek tubuhnya, gemul mukanya, ikal rambutnya, bercita-cita tinggi, pedas tutur katanya, keras suaranya, pesimpenan gedong menga, lumbung berisi, bahayanya pada air. Itu mesti diwaspadai,
38b.sebabnya diwaspadai karena Sang Krulut disakiti oleh Sang Kala
Hluhwarah, mesti segera dilebur sakitnya, seperti: koreng, kurap, rumpuh, sakit urat, sakit karena perbatasan,
pekarangan panas mengganggu, pintunya rusak, jalannya tampak lwang, pekerja. Dinetralkan sakitnya dengan mandi terkurung
di perbatasan memakai air 14 warna berikut tempatnya, dipuja oleh wana gamana. Sang Mrakih watek-nya 24, urip-nya 6,
bersifat seperti Sang Rama, penjelmaan Sang Kala Komara, pekarangan dirasuki mrana, kayunya kemeri, burungnya merak,
binatangnya macan, lintang hirim, seorang wanita Sang Mrakih,
berwajah bulat, rambutnya lebat, berwarna agak hijau tubuhnya, agak jangkung,
39a.berkehendak bersuami, agak merah wajahnya, sering ngambek,
menggebu-gebu pikirannya, pesimpenan
gedong menga, lumbung sepi,
kesukaannya berangkat. Itu mesti
diwaspadai watek Sang Mrakih, perut
kembung dan kaku, yang menyebabkan ke-rumpuh-an,
gatal kukunya, asal sakitnya dari jalan dan pintu masuknya turut
mengganggu. Dilebur dengan mandi
terkurung di pekarangan memakai air 24 warna berikut tempatnya, dipuja oleh wana gamana. Sang Tambir watek-nya 10, urip-nya 3,
bersifat bhuta, penjelmaan Sang Kala
Tumbal, terganggu pekarangannya, pohonnya kayu kalewi, burungnya binti,
binatangnya banteng, lintang-nya timba,
39b.berupa seorang wanita Sang Tambir, agak bintik-bintik wajahnya,
rambutnya menurut, lebar telinganya, agak kusut wajahnya, kerempeng tubuhnya,
luhur pemikirannya, tidak ada godaan, sakitnya pada tangan dan mata, pendiam
ibarat tak peduli dengan kata-kata, tampak seperti arca, pesimpenan gedong menga
lumbung berisi, kegemarannya angusadanin/
dukun penyembuhan, pikirannya berbakti.
Itu mesti diwaspadai, karena Sang Tambir disakiti oleh Sang Kala Bhuta,
disakiti karena mengurung pikiran seseorang, mencuri, bepergian, dilebur
sakitnya Sang Tambir, karena terkena tluh
ati, tangker, ebuh/busung lapar,
diare, kendala pada balainya dan di bawah kasurnya, juga turut mengganggu
perbatasan sebelah timur rumahnya, juga akibat telur dan tulang/balung, biluluk,
40a.yang dibungkus pada tepas
dapur, dengan rerajahan sa. Itu turut sebagai penyebab sakitnya, segera
dilebur sakit yang terkena tluh itu,
hati membengkak, diare, busung lapar, berikut balainya rusak. Segera dilebur dalam posisi terkurung di
tengah jalan, dipuja oleh marga gamana. Sang Medangkungan watek-nya 21, urip-nya 7, bersifat sang
mandhala, penjelmaan bhuta ingon,
sempit pekarangannya, pohonnya kayu kamal,
burungnya kapunang, binatangnya
menjangan, lintang-nya dangdang, seorang laki-laki Sang
Medangkungan, lebar wajahnya, telinganya kecil, keras rambutnya, tampak muda
wajahnya, selalu awet muda, tak rela terhadap miliknya, berhasil segala
kehendaknya, kokoh budinya,
40b.gampang dilihat orang, pada mata dan tangan asal sakitnya,
cocoknya bekerja di sawah, pesimpenan
gedong tertutup, lumbung tertutup, gemar asewaka. Hal itu mesti mesti
diwaspadai, dikarenakan Sang Medangkungan disakiti oleh Sang Bhuta Mandala,
sebabnya diganggu karena tak peduli dengan waktu, mesti segera dilebur sakitnya
Sang Medangkungan, seperti: muntah-muntah, kembung perutnya, kaku, anglu/duda, terkena sarana dan
pekarangan dikitari oleh upaya licik oleh menantunya dan keluarganya menyakiti,
pekarangannya juga bekas kandang, sering disebut karang kandangkan, disucikan dengan cara mandi terkurung di dalam
kandang, dengan air
41a.sepuluh (10) warna berikut tempatnya, dipuja oleh gmana. Sang Matal watek-nya 8, urip-nya 5, bertabiat mantri, penjelmaan Sang Metri, indah berwibawa pekarangannya, pohonnya kayu maja, burungnya mañar, binatangnya macan, lintang-nya maling/pencuri, seorang lakilaki Sang Matal, agak tipis wajahnya, agak mendelik matanya, rata giginya, rambutnya jarang, telinganya tidak sama, merah warna kulitnya, pendek padat tubuhnya, menghanyutkan tutur katanya, pesimpenan gedong menga/terbuka, lumbung arang/tampak dari luar, kesukaannya mendalami mantra tenung. Itu diwaspadai, karena Sang Matal disakiti oleh Sang Mantri, pergi dan lebur penyakit yang disebabkan oleh Sang Mantri, seperti: selalu terasa lemah, pelupa, jika tidak segera dilebur sakitnya akan berdampak kematian konon, juga rumahnya
41b.diapit jalan, juga diperdaya oleh orang yang tidak pernah tegur
sapa/ puik, sebagai obat pemusnah
sakitnya dengan cara mandi terkurung di jalan menuju sawah, dengan air 8 warna
berikut tempatnya, dipuja oleh marga
gmana. Sang Uye watek-nya 9, urip-nya 1, bertabiat Sang Warayang, penjelmaan Sang Kala Kawaya,
lembab/becek pekarangannya, pohonnya pisang, burungnya syung, binatangnya buaya, lintang-nya
warayang, seorang wanita Sang Uye,
berparas gembira, jarang rambutnya, sendu matanya, lebar daun telinganya, hijau
warna kulitnya, bulat tubuhnya, menjadi wiku harapannya, luhur daya nalarnya,
ibarat penasihat menteri cita-citanya, pada mata sumber sakitnya, pesimpenan gedong terbuka, lumbung
sarang/boros, kesukaannya pencemburu.
Itu mesti diwaspadai, karena
42a.Sang Uye disakiti oleh Sang Warayang, olehnya semua itu berubah
menjadi busung lapar, segera mesti dilebur/dimusnahkan penyakit Sang Uye itu,
yakni: batuk, orang panas-dingin, uyun/kepala
terasa ringan, walikatan/ tersengat
pada pinggangnya, kemudian ketika sakitnya menghilang, orang itu menjadi kadalih/dihina, sungguh jelek
akibatnya. Penawar sakitnya dengan mandi
terkurung pada air, dengan air sebanyak 6 warna berikut tempatnya, dipuja oleh tirta gmana. Sang Menail watek-nya 14, urip-nya 5,
tabiat Hanoman, penjelmaan moha, selalu kedatangan tamu pekarangannya, pohonnya
kayu manis, burungnya mañar,
binatangnya naga, lintang-nya kelapa sundhe, seorang laki-laki Sang Menail,
agak mulus wajahnya, lebat ikal rambutnya, parasnya ibarat suasana hutan, besar
tubuhnya madya,
42b.berwibawa ucapannya, sejuk pikirannya, pesimpenan gedong terbuka, lumbung terbakar, kegemarannya memadat/perokok. Itu mesti diwaspadai karena Sang menail
disakiti oleh Sang Kala Moha, tersakiti olehnya dari sifat iri orang jahat,
merasuk pada dirinya, dapat disembuhkan penyakit Sang Menail, seperti pejen, beku pikirannya, hingga matanya
menjadi sakit, itu kisah jalan kejahatan dengan cara mandi di jalan dengan
sarana air 14 warna berikut tempatnya, dipuja oleh marga gmana. Sang
Prangbakat watek-nya 22, urip-nya 9, bertabiat seorang raja/prabhu, penjelmaan Sang Kala Bandha,
terasa lembab pekarangannya, pohonnya kayu pahem,
burungnya prañcak, binatangnya
kerbau, lintang kumbha/ periuk, seorang laki-laki
43a.Sang Prangbakat, bermuka merah, telinganya lebar,
penglihatannya tajam, ucapannya keras, memelas wajahnya, purika kendalanya, pendiam tanpa diprovokasi, berpikiran tenang,
ikhlas dengan miliknya, kelemahannya pada mata dan mulut, pesimpenan gedong terbuka, lumbung terbakar, harapannya selalu
terpenuhi, berperilaku pendeta. Itu
mesti diwaspadai watek Prangbakat dan
urip-nya, mengapa demikian karena
Sang Prangbakat disakiti oleh Sang Kala Bandha, sebabnya disakiti karena sering
mengikat orang, mesti segera dilebur sakitnya, seperti gangguan pencernaan,
busung lapar, kaku, karena bermasalah pada pagar pekarangannya dan kendala pada
pintu masuknya,
43b.penyakitnya itu disebut rajang
agni murub, dua meter panjangnya, mesti disembuhkan dengan air penawar,
dipuja oleh dening Siwagni. Sang
Bala watek-nya 8, urip-nya 2, bertabiat seperti lembu,
bukan bertabiat tambelung,
pekarangannya terbuka lebar, burungnya jalak, binatangnya lembu, lintang-nya lumbung, seorang laki-laki
Sang Bala, agak segi empat mukanya, balu/rusak
salah satu matanya, lebar telinganya, kalem perilakunya, loba pikirannya,
kebiasaannya ibarat rangda, sering di
tempat gelap, kelemahannya pada mulut, pesimpenan
gedong terbuka, lumbung berlubang, balai dan pekarangannya sama-sama cacat,
berdampak duda karena bahan balainya, tubuhnya pendek. Itu mesti diwaspadai oleh watek Sang Bala juga urip-nya, mengapa harus diwaspadai sang
Bala,
44a.disakiti oleh Sang Widhana, sebabnya disakiti karena dihukum,
tidak tahu datangnya hukuman, segera dilebur penyakit Sang Bala, berada di
dalam tulang, mesti diisi serba sembilan, penawarnya mesti dibuat pintu,
disertai sesapa sambil jongkok, karena sedang berada di dalamnya, berikut tabuhnya
berupa air sejumlah 8 warna serta tempatnya, dipuja oleh Buddha Gmana. Setelah dipuja yang sakit ditaruh di pintu
masuk, dimandikan terkurung di sana, karena Hyang Sambu tengah asuci di sana. Sang Ugu watek-nya 6 tanpa urip,
bertabiat pragiwa, penjelmaan Sang
Kala Gawe, pohonnya kayu gawok,
burungnya gagak, binatangnya gajah, lintang-nya
pedhati, seorang wanita Sang Ugu,
agak lonjong wajahnya, teguh ulahnya, usil perilakunya,
44b.sulit buat pragiwa
parasnya, berlagak wanita, jauh penglihatannya, pesimpenan gedong terbuka, lumbung sepi, kelemahannya pada perut
juga pada guru. Itu mesti diwaspadai
oleh Sang Ugu juga urip-nya, mengapa
berhati-hati karena Sang Ugu disakiti oleh Sang Barunna, karena selalu
berperilaku janggal. Segera mesti
dilebur sakitnya Sang Ugu, seperti perut kembung, gondok, gudhug, kancelan,
dikerjakan oleh orang lain, sakitnya pada perut, di pinggang, pekarangannya
tembus, ada gangguan dan kendala pada kelahirannya, penetral sakitnya segera
mesti dilebur di pintu masuk dengan air 6 warna berikut tempatnya, dipuja oleh tirta gmana. Sang Wayang watek-nya 8,
45a.urip-nya 1, bersifat
Sang Kakaya, penjelmaan Sang Maha Mretha, lega pekarangannya, pohonnya kayu
huni/buni, burungnya mayura, binatangnya
duyung, agak lebar mukanya, bersinar penglihatannya, rambut mudah diatur,
warnanya kehijauan, kelemahannya pada mata, epilepsi sakitnya, dikerjakan orang
yang bukan pikirannya, sulit terkatakan.
Itu mesti diwaspadai watek
Sang Wayang, karena Sang Wayang disakiti oleh Sang Maha Mretha, akibat sering
membunuh orang, pergi dan leburlah penyakitnya seperti perut kembung, mata
bengkak, sangat pelupa, dinetralkan dengan mandi terkurung di bawah wot dengan air 8 warna berikut
tempatnya, dipuja oleh tirtha gmana.
45b.Sang Kulawu watek-nya 1 urip-nya 7, bertabiat Sang Kala, penjelmaan Sang Bhuta Kakawah, pekarangannya ibarat lembah, pohonnya kayu kowang, burungnya calilingan, binatangnya kuwuk, lintang-nya uluku, seorang laki-laki Sang Kulawu, bulat mukanya, kokoh tubuhnya, keras tutur katanya, sendu wajahnya, tajam pikirannya, suka dengan wanita, ingin menjadi pangawi, kuat bekerja, pesimpenan gedong bolong, lumbung bolong, menghendaki dua putra yang kemudian berulah karena Hyang Brahma. Itu mesti diwaspadai, karena Sang Kulawu disakiti oleh Hyang Brahma, mesti segera dilebur penyakitnya seperti penyakit kulit, limpa, batuk, hingga menjadi hudug, koreng, salah ucap.
46a.Itu penyakit yang disebabkan oleh semua yang mengganggu, pekarangannya juga kendala, pintu lambang dan watonnya semua cacat. Penetral sakitnya, mesti dilebur dengan mandi terkurung di pintu masuk, dengan air 14 warna berikut tempatnya, dipuja oleh kala gmana. Sang Dukut watek 12 urip-nya 5, bersifat laki-laki, penjelmaan Sang Kala Sakula, pekarangannya sempit, pohonnya kayu kamal, burungnya drakuku, binatangnya kuwuk, lintangnya kumbha, seorang laki-laki Sang Dukut, ibarat durian sejuring wajahnya, penglihatannya menerawang, pikirannya tidak serius, berkehendak sebagai sang kawi, agak lebat rambutnya, tubuhnya bagus, berpikiran ambisius, pesimpenan gedong terkunci, lumbung tertutup, suka berembug,
46b.kata-katanya
tidak tuntas dan suka marah. Itu waspadai
watek Sang Dukut juga urip-nya, mengapa diwaspadai karena Sang
Dukut disakiti oleh Sang Kala Sakula.
Penyakit Sang Dukut, antara lain: sakit perut, kakinya terasa pegal,
hingga berdampak gila. Disembuhkan mandi
terkurung di dalam kandang dengan air 12 warna berikut tempatnya, dipuja oleh
Kaligana. Sang Watugunung, watek 7 urip-nya 8, bertabiat Sang Manon, penjelmaan Sang Gagana,
pekarangannya srengga nunggir,
pohonnya kayu angsoka, burungnya elang, binatangnya landak, seorang laki-laki Sang Watugunung, besar postur tubuhnya,
rata mukanya, mancung hidungnya, lebar/pidhuk
telinganya, wajahnya menarik, agak balu/jereng matanya, setia kawan, agak mudah
diatur
47a.rambutnya, lebar dadanya, pendek lehernya, agak panjang
kepalanya, agak tinggi badannya, jemarinya lurus, hitam rambutnya, mudah
diatur, warna kulitnya agak kadal,
penyakitnya lempuyengan, beringas
geraknya, baik hatinya, ditakuti anak kecil, banyak gangguannya. Lempuyeng
dan beringasnya adalah penyebab sakitnya, pekarangannya menganggu, hal itu mesti
hati-hati, karena Sang Watugunung disakiti oleh Sang Kala Gni, sakitnya
terletak di kepala, terasa menyengat, sakitnya itu sangat menganggu, karena tiang salu dan watonnya rusak,
likahnya terilut, galar-nya patah,
pintunya pecah, rumahnya tertanam kayu pala,
dirajah, juga jahe diikat dengan benang hitam,
47b.tidak normal jaraknya dengan atap dapur, ada utang dari buyut
lakinya, disakiti oleh leluhur, selalu diganggu, dilepaskan pamali, itu sebabnya sakitnya merasuk di
setiap persendian, pesimpenan gedong
tertutup, lumbung rusak, akibatnya Sang
Watugunung disakiti oleh Sang Kala Gni. Itu waspadai watek dan urip-nya,
segera dilebur di halaman/natar dan dikurung, dengan air 7 warna berikut
tempatnya, dipuja oleh giri gmana.
Ini Wawaran
Wuku, wawaran disebut tutur, adanya suatu kenyataan, sifat
baik-buruknya, ayu adalah suka, ala adalah duhka, ambek, cara,
berperilaku aneh, itulah maknanya.
48a.Ini keberadaan wuku,
ketahuilah kekurangan/kelemahan wuku,
seperti (1) Sang Ekawara watek-nya
12, urip-nya 7, ada kesenangan karena
banyak kelebihannya, sering memuja dengan japamantra,
kokoh pikirannya, berparas judes seperti tak rela diganggu, tinggi postur
tubuhnya, di ladang pun melakukan japamantra,
di situlah kesenangannya, berakhir dengan kematian, tidak awet umurnya, hanya
sampai setengah umur, itulah penghalangnya, dhara
pondhana dan wreti yang ambil
usianya, mesti disucikan segala penghalang itu, berupa pamali yang dilepas oleh Sang Kala Tiga, itu sebabnya disucikan
dengan rumput ilalang, karena dosanya buruk, jelek namanya, dituduh bisa ilmu
hitam akibat pada dirinya tersirat dosanya.
48b.gedong berisi,
pohonnya kayu kayamba, burungnya tinggili, binatangnya gagak juga
burungnya, telaga darah penyembuhan sakitnya, mandi terkurung di ladang, jumlah
air yang dipakai mandi adalah 12 warna berikut tempatnya, diisi daun maja yang terjatuh, kotoran tumati kalung. (2) Dwiwara sama dengan dua, dwi
bermakna hari, wara bermakna malam. Sang
Rahina berwatak 8, urip-nya
9. bersifat drana, kurang tegak
tubuhnya, tak mau kalah parasnya, sembarangan ucapannya, cepat bosan berteman,
pohonnya kayu rawu, burungnya hulung, binatangnya rase, airnya telaga danu,
ikannya tertutup, kesukaannya berdagang, pekerjaannya seperti anak-anak,
sakitnya perut kembung, gondok,
49a.hriping serba
sembilan, ada kendalanya meraih bahagia, demikian dijumpainya, harta
pikirannya, aneh perilakunya, sakitnya disembuhkan dengan mandi terkurung di
laut, dengan air 16 warna berikut tempatnya, diserta daksina. Sang
Wengi watek 6 tanpa urip, bersifat wredhi, ketika berpakaian selalu serasi, berparas sakti, rengkeng/tidak jelas tutur katanya, kuat
dengan karma pikirannya, sri amawadha,
pohonnya beringin, burungnya burung ijohan,
binatangnya warak/badak, sumber
airnya telaga wangan, penyembuhan
sakitnya mandi terkurung di bawah hot,
jumlah air mandinya 6 warna berikut tempatnya, dipuja oleh sahadenta. (3) Triwara: doro/pasah, waya/beteng, byantara/kajeng. Sang Doro
49b.watek-nya 12 urip 5, simbol dunia/jagat, ikhlas
pikirannya, parasnya kocak, lincah perilakunya, enerjik geraknya, kesatria/jalukan jaliddhara pikirannya,
bercita-cita tinggi, berkunjung ke sanak saudara pekerjaannya, pohonnya kayu
durian, burungnya hares, binatangnya
gajah, sumber airnya telaga milir/mengalir,
hobinya sebagai jagal/ tukang potong
hewan, suka dengan orang yang masih muda, genta
terbuka berperilaku hina, dibunyikan oleh orang hingga ajal menjemputnya. Disembuhkan dengan mandi terkurung di pinggir
jalan dekat jurang, jumlah air yang dipakai mandi sejumlah 12 warna berikut
tempatnya, dipuja oleh saka krama. Sang
Waya watek-nya 8 urip-nya 1, simbol mantra, berpikiran
luhur,
50a.mantra adalah pikirannya, tukang bagi pekerjaannya, tidak
serius parasnya, bercita-cita sakti, kotor pikirannya, membangun harapan
pekerjaan, punya perkumpulan/group,
pohonnya kayu wedhi, burungnya merak,
binatangnya warak/badak, sumber
airnya telaga wilar, ikannya bandeng,
hobinya pencari kebahagiaan. Penyakit Sang Waya pada hati, perut, mengidap ayan/epilepsi, perut kembung,
disembuhkan dengan mandi terkurung di pinggir sumber air dengan air 8 warna
berikut tempatnya, dipuja oleh asta
piñara. Sang Byantara watek-nya 17 uripnya 4, bersifat bherawa,
berbakti ulahnya, pikirannya tenang, besar tutur katanya, senang makan, suka
tidur, pohonnya kayu tunjung, bangau
burungnya, banteng
50b.binatangnya, kegemarannya angreh
pilihan utamanya, banyak gangguannya, penyakit Sang Byantara, badannya
gatal-gatal, perut kembung dan luka-luka, rumpuh/strok. Disembuhkan dengan mandi di tepi sumber air,
duduk di atas batu, banyaknya air 19 warna berikut tempatnya, dipuja oleh Siwa Barunna Ghni. (4) Catur Wara: Sang Sri watek-nya 12, urip-nya 5, simbol kuburan/sma,
perilaku kulisu, wibawa parasnya, serasi
kulitnya, kayunya sentul, burungnya syung, binatangnya sapi, sumber airnya
telaga asat/kering, kendalanya kena
sesuatu/ sinusuban pada kakinya,
disembuhkan dengan mandi terkurung di laut, dengan air 12 warna
51a.berikut tempatnya, dipuja oleh Siwa Ghni. Sang Labha watek-nya 9, urip 7, simbol balatentara, ibarat kesatria kehendaknya, juga loba/ serakah, ramai tutur katanya hingga menuai hasil, burungnya bangau, binatangnya musang, sumber airnya telaga balungbang, ikannya betok dan lele, lumbungnya penuh, berlebihan rasa bahagia, penyakit Sang Labha: pelupa, lemah/lesu, anglu(janda/duda), busung lapar, rumpuh/ strok, beser/kencing terus, perut kembung, samar penglihatannya, gila. Penyembuhan sakitnya: mandi terkurung di pintu masuk, dengan air 9 warna berikut tempatnya, dipuja oleh Wesma Gmana. Sang Jaya watek-nya 10,
51b.urip-nya (?), simbol
Sang Kala, kokoh pikirannya, perilakunya jelek, suka dengan milik orang lain,
tidak bisa disucikan jika belum sadar dengan ilahnya, kayunya jlawe, burungnya jalak, binatangnya
kuda, sumber airnya air berputar, ikannya jarejet,
lumbungnya terbuka, nasibnya dijauhi rasa bahagia, tak suka bekerja,
penyakitnya pada urat, leher, hingga menembus hati dan paru-paru, karena usil
dengan orang, jika tidak demikian akan berdampak kematian. Disembuhkan dengan mandi terkurung di jogga, dengan air 10 warna berikut
tempatnya, dipuja oleh Wisma Gmana. Sang Mandhala watek-nya 13, urip 6,
simbol Sang Bhoma, pikirannya bulat, perilakunya
52a.selalu pendiam, dangkal pikirannya, rela dengan miliknya,
kayunya manggis, burungnya mañar,
binatangnya landhak, sumber airnya
telaga danau, ikannya lele, mangut, delem,
dogdog loddhang, lumba-lumba, lumbung
berisi, suka bersanding, berperilaku wanita, bernasib buruk mati sengsara, umur
pendek Sang Mandhala. Penyembuhan sakitnya mandi terkurung di
jalan, dengan air sejumlah 13 warna berikut tempatnya, dipuja oleh margga gmana. (5) Panca Wara: Sang
Umanis wateknya 8, urip 1, simbol kera, pendiam, berani
bertutur kata, kesukaannya berpakaian, kayunya nangka, burungnya merak,
binatangnya
52b.kambing, sumber airnya telaga madhu, tanpa ikan, penyakit Sang Umanis: pada perut, mata, nasibnya
mañju udug. Penyembuhan sakitnya adalah mandi terkurung
di jalanan, dengan air sejumlah 8 warna berikut tempatnya, dipuja oleh margga gmana. Sang Paing watek-nya 12, urip 5,
simbol wina, bingung pikirannya,
sakit sekeluarga, pohonnya telaga mumbul,
ikannya ambulu, lele, puputih, lumbung tertutup, sakitnya Sang
Paing: sulit kentut, perut kembung, lambungnya, nasibnya diperdaya orang. Lenyapkan sakitnya dengan mandi terkurung di
dalam api dengan air sejumlah 12 warna berikut tempatnya, dipuja oleh
53a.Siwaghni. Sang Pon watek-nya 8, urip 1, simbol
babaru, pikiran terbagi, kasihan
dengan sanak saudara temannya, agak besar suaranya, kayunya randhu, burungnya bris, binatangnya barong,
ikannya baboso, kakerung, luluma,
lumbungnya boros. Penyakit Sang Pon:
pada perut, kaki, hingga busung lapar, barah,
gila, udhug, perut membesar. Disembuhkan dengan mandi terkurung di laut,
dengan air 8 warna berikut tempatnya, dipuja oleh Siwa Barunna Ghni. Sang
Wage watek-nya 6, tanpa urip, simbol cahaya/sinar, bot karuna, tak rela terkalahkan
parasnya, akrab dengan temannya, kayunya wangkal,
burungnya gagak, binatangnya kambing, sumber airnya telaga agung,
53b.bandeng dan gondok, gedong-nya
terbuka, rezekinya ada pada pekerjaan yang paling disukai. Penyakit Sang Wage: perut, pinggang, gemetar,
berdampak udhug, gondok, perut
kembung. Penyembuhan sakit: mandi
terkurung di dalam pintu masuk dengan air sejumlah 6 warna berikut tempatnya,
dipuja dengan tirtha gamana. Sang
Kliwon watek-nya 14 urip 7, tabiat uwukon, kuat berpikir, kuat bicara, sebagai pengawi pikirannya, kayunya kusambi,
burungnya calilingan, binatangnya
kerbau, lumbung penuh, tanpa hobi.
Penyakit Sang Kliwon: pada kulit, limpa, tidak jelas penglihatannya/lamur, kakel. Penyembuhan sakitnya
mandi terkurung di tepi sumber air, dengan air 14 warna berikut tempatnya,
54a.dipuja dengan kali gmana. (6) Sad Wara: Sang Tungleh watek-nya 7, tanpa urip, bertabiat seperti raja, berparas guranjah, jajarih, dan
jorok, pikirannya bingung, kayunya tangguli,
burungnya tuhu-tuhu, binatangnya tinggalung, sumber airnya telaga tulis,
lumbung kosong, ikannya jrejet, trajangan kuluma, ada telurnya,
kandangnya. Penyakit Sang Tungleh:
pelupa, lesu, masalah urat/otot, sakitnya kena ilmu hitam/tluh, itu kesukaannya merasuk ke rumah-rumah, hobinya anjari, kendalanya habis diserbu. Penyembuhan sakitnya: mandi di pertengahan alun-alun/ lapangan, dengan air 7 warna
berikut tempatnya, dipuja dengan wanna
gmana. Sang Aryang watek dan urip-nya 2, simbol Widhi, pikirannya
sangat baik, cita-citanya
54b.berkembang dan kaya, seperti uang, kayunya angsoka, burungnya garuda, binatangnya domba, sumber airnya telaga waja, ikannya ampalung, kepiting, jrejet,
hobinya jual-beli sebagai kesukaannya dan mengumpulkan uang. Penyakit Sang Aryang: berawal dari perut,
sakit kepala, hingga berdampak epilepsi, udhug. Penyembuhan sakitnya: segera mandi di tepi
sumber air, dengan air 9 warna berikut tempatnya, dipuja dengan tirtha gmana. Sang Urukung, watek-nya 19, urip 12, simbol japa,
pikirannya kacau, gagal harapannya, besar harapannya, tak mengerti ajaran/tutur, kayunya beringin, burungnya kadawa, binatangnya badak, sumber airnya
telaga sarang, ikannya bandeng kuluma, udang, tidak punya kegemaran,
55a.tanpa hobi, penyakitnya: kakel,
koreng, parang/kaki pecah-pecah,
wawatunan, udhug, rumpuh/strok,
cekehan. Bisa disembuhkan dengan
mandi terkurung di pekarangan, dengan air sejumlah 11 warna berikut tempatnya,
dipuja dengan saha krama. Sang Paniron watek-nya 6, bersifat kala, berwajah klit, gagah jalannya, pikirannya buyar, perwira, kayunya bunut panggang, burungnya prit, binatangnya rase, sumber airnya telaga rupa, ikannya pasu, bot pari, itu kesukaannya.
Penyakit Sang Paniron pada perut, dekat kemaluan, kelemahannya pada
kemaluan dan mata. Penyembuhan sakit
mandi terkurung di jurang dengan 20 jenis air berikut tempatnya, dipuja dengan saha krama.
55b.Sang Was watek-nya 3,
bersifat racun, pemberani, ingin menjadi orang sakti, pikirannya seperti
wanita, gagah perilakunya, kayunya udhipa
tanjung, burungnya merpati, binatangnya tinggili,
sumber airnya telaga urung, ikannya
bandeng. Perhatikan penyakit Sang Was:
sakit perut, batuk. Penyembuhan sakitnya
mandi terkurung di atas batu, dengan air 3 warna berikut tempatnya, dipuja
dengan wana gmana. Sang Mahulu watek-nya 11, urip 4,
simbol kali, pendiam, seperti orang kaya ulahnya, introspeksi pada para
sahabatnya, kayunya namantra, burungnya minjo, binatangnya macan, sumber airnya
telaga bergerak, ikannya guling lele, melem,
lumbung berisi,
56a.penyakit Sang Mahulu pada limpa menyebar ke mata/lamur, disembuhkan dengan mandi di jalan sisi utara, dengan jumlah air 11 warna berikut tempatnya, dipuja dengan margga gmana. (7) Sapta Wara, Sang Radite watek-nya 14 urip 9, bersifat ratu, tidak ada yang terpikirkan, ulahnya ibarat detya, kayunya tunjung, binatangnya tinggili, burungnya merpati, sumber airnya telaga drata, ikannya dleg, tatampak, kesukaannya dari pemberian orang, karena berada di tempat tidur. Penawar sakitnya mandi di perjalanan, karena dituduh dhudu/yang bukan-bukan, jumlah air pelebur 16 warna berikut tempatnya, dipuja dengan margga gmana. Sang Soma, watek-nya 16, urip 9, simbol Sang Hyang Asmara, manis
56b.tutur katanya, wajahnya penuh harapan, berperilakunya sebagai
wanita, aneh ulahnya, kayunya sentul,
burungnya syung, binatangnya singha, sumber airnya telaga sma/kuburan, ikannya saset, penyakit Sang Soma adalah Sang
Kala Ujar yang bertempat di kepala, perut, mata, kaki. Disakiti oleh suaminya,
penyembuhannya mandi di tepi sumur, dengan jumlah air 16 warna berikut
tempatnya, dipuja dengan setra gmana. Sang
Anggara watek-nya 15 urip 8, simbol guru, keinginannya angreh,
besar ucapannya, tak mau kalah wibawa, berperilaku sibuk, kayunya rajasa, burungnya gagak, binatangnya
garuda, sumber airnya telaga enam rasa, sakitnya di
57a.perut, kepala, lubang kentut, akibatnya gondok, rumpuh/strok. Penyembuhannya mandi terkurung di semua arah dengan air 15 warna berikut tempatnya, dipuja oleh rsi gamana di hutan, bertempat di antaru dan uluku. Sang Buddha watek-nya 10 urip 7, bertabiat mredangga, pembawaannya kurang ramah, pandai berbohong, kayunya bungkak, burungnya babido, sumber airnya telaga budal, sakitnya busung lapar, luka parah, akibatnya perut kembung, barah, rumpuh/strok. Penyembuhan sakitnya mandi di pintu masuk dan terkurung dengan jumlah air 10 warna berikut tempatnya, dipuja oleh Buddha Gmana. Sang Wreshaspati watek-nya 20 urip 8, symbol
57b.patih, agak ruwet
pikirannya, penuh ide, kayunya tangguli,
burungnya puteh, binatangnya rase, sumber airnya telaga kpa, ikannya jarah dan papetok, rebon.
Penyakitnya di perut, kemaluan laki-laki, pikiran, rumpuh/strok, tuli, selalu keluar tahi mata/pecehan, mati berperang. Penyembuhan sakitnya mandi di tepi jalan,
dengan air 20 warna berikut tempatnya, dipuja dengan setra gmana. Sang
Sukra, watek-nya 20, urip 6, bersifat Sang Kosika, berpikiran teguh, belas kasihan, goyah pikirannya,
kayunya sukun, burungnya kadawa, binatangnya sebuk, sumber airnya telaga sukla,
ikannya kuluma,
58a.salungsur. Penyakit Sang Sukra: di kaki, di kepala,
kulit terasa kaku, akibatnya epilepsi.
Peleburan sakitnya mesti mandi di jalan yang sulit dan dikurung, memakai
air 20 warna berikut tempatnya, dipuja dengan setra gmana. Sang Saniscara watek-nya 60, urip 9,
bersifat sura wacana, ceplas-ceplos
tutur katanya, bersifat kikir, cemburu pikirannya, kayunya cendana, burungnya
cangak, binatangnya babi, sumber airnya telaga socca/permata, ikannya cekalang, agak rahasia sakitnya, berada di
kemaluan dan perut, kelemahannya di mulut.
Penyembuhan sakitnya mandi di sawah terkurung, dengan jumlah air 30
warna berikut tempatnya, dipuja
58b.dengan giri gmana. (8) Asta Wara: Sang Sri: watek-nya 12, urip 5, simbol samudra, pikirannya selalu percaya, sri kancaranya,
suka harapannya, nyata hatinya, pohonnya kayu rabbhi, burungnya sarindhit,
binatangnya ular/sarpha, sumber
airnya telaga warsa, ikannya saset. Penyakit Sang Sri: di kepala,
kaki, pantat, kebiasaannya saling isi/tukar pikiran. Penyembuhan sakitnya: mandi di laut dengan
air 12 warna berikut tempatnya, dipuja oleh Barunna Ghni. Sang Indra watek-nya 8 urip-nya 1,
bertabiat Sang Addhi, tinggi cita-citanya, mencekam pikirannya, kayunya kaliasem, burungnya dadali, binatangnya ula/ular,
sumber airnya telaga uddha,
59a.ikannya dleg, udang, uling.
Penyakit Sang Indra: biasanya gila jika sakit parah. Penyembuhan sakitnya: mandi di jalan menuju
rumah dengan air sejumlah 8 warna berikut tempatnya, dipuja dengan uma gmana. Sang Guru watek-nya 11 urip 4,
bertabiat gunung, harapannya tak terkalahkan, pikirannya selalu peduli dengan
hak milik, selalu ingin berhasil, besar tutur katanya, kayunya randhu, burungnya gagak, binatangnya
gagak dan garudha, sumber airnya
telaga sarang, ada ikannya. Penyakit Sang Guru di perut, kepala, rumpuh/strok, gondok, itu biasanya. Penyembuhan sakitnya mandi di bebukitan dalam
keadaan terkurung dengan air 11 warna berikut tempatnya,
59b.dipuja dengan giri gmana. Sang Yama watek-nya 9 urip 2, bersifat sang yowana/remaja, berbudi baik, ikhlas juga tidak ikhlas terhadap miliknya, ringan harapannya, kayunya maninjo, burungnya menco, binatangnya menjangan, sumber airnya telaga mayang, ikannya kepiting beranak. Penyakit Sang Yama pucat pasi, selalu muntah-muntah. Penyembuhan sakitnya mandi di pertengahan jalan menuju rumah dan terkurung, dengan air 9 warna berikut tempatnya, dipuja oleh Yama Gmana. Sang Rudra watek-nya 7 tanpa urip, bertabiat seperti teman, pikirannya seperti lele, berperilaku ladrang, bercita-cita sabadalu/pertemuan malam hari, kayunya langsep, burungnya ares, binatangnya
60a.lembu, sumber airnya telaga dalir, isinya ikan lele dan deleg. Penyakit Sang Rudra pada limpa, mulut, mata, lengan, merasuk ke seluruh tubuh. Penyembuhan sakitnya mandi terkurung di jalan, dengan air 7 warna berikut tempatnya, dipuja dengan margga gmana. Sang Brahma wateknya 10 urip 3, sifatnya seperti Bhima, berwatak keras, berbangga hati, tidak suka gembar-gembor/pendiam, suaranya besar, kayunya manggis, burungnya bangau, binatangnya bijog/kera, sumber airnya telaga mumbul/ penuh, ikannya betok melem. Penyakit Sang Brahma: borok/luka besar, perut membesar, bayan, beser/selalu kencing, itulah kebiasaannya. Penyembuhan sakitnya mandi terkurung di pintu masuk, dengan air 10
60b.warna
berikut tempatnya, dipuja oleh Barunna
Ghni. Sang Kala wateknya 11 urip 4, bersifat seperti kilat, berpikiran durhaka, amat kotor
hatinya, kayunya kepel, burungnya atat, binatangnya kancali, sumber airnya telaga kula,
berisi lele, kuluma, dagingnya
kerbau. Penyakit Sang Kala: koreng pada
kemaluan, kulit, rumpuh/strok, pelupa, itulah kebiasaannya. Penyembuhan sakitnya mandi terkurung di
sungai, dengan air 11 warna berikut tempatnya, dipuja dengan tirtha gmana. Sang Uma watek-nya 8 urip 1,
bertabiat seperti harimau, selalu bingung, pikirannya tidak ada yang diragukan,
kayunya ambulu, burungnya menjo, sumber airnya telaga umung/sepi,
61a.berisi
udang. Penyakit Sang Uma selalu dibelit
sakit gila, penyembuhan sakitnya mandi terkurung di rumah, dengan air sejumlah
8 warna berikut tempatnya, dipuja dengan wesma
gmana. (9) Sanga Wara: Sang
Dangu watek-nya 9 urip 2,
bersifat bhuta dengen, tak peduli
dengan kata kasar, keras kepala, berpikiran kotor, kayunya dapdap, burungnya dangdang,
sumber airnya telaga danau, tanpa ikan, binatangnya uyung/duyung, kuwuk. Penyakit Sang Dangu dungkul/mendengkul, anak
lepek, kotor, itu kebiasaannya.
Disembuhkan dengan mandi terkurung di dangka, dengan air sejumlah 9 warna berikut tempatnya, dipuja oleh Siwa Ghni.
Sang Jangur watek-nya 8 urip 1,
bersifat peduli, berpikiran
61b.jalidre/cemburu, perilakunya bermalas-malasan, berparas ragu, kayunya jambu, burungnya jalak, binatangnya kuda, sumber airnya telaga jingut, penyakit Sang Jangur kejang-kejang, menggeliat pada persendian, di lutut, tempat itulah terasa sakit. Penyembuhan sakitnya mandi di jalan dekat jurang, dengan air sejumlah 8 warna berikut tempatnya, dipuja dengan wana gmana. Sang Gigis watek-nya 6 tanpa urip, bersifat seperti Sang Gagana, tidak mau terkalahkan, ucapannya tak karuan, kayunya pohon asem, burungnya ayam dan gagak, binatangnya gajah, sumber airnya telaga gagar. Penyakit Sang Gigis biasanya di kepala, gemetar, gunanya dimasuki rayap, penyembuhan sakitnya mandi di ladang/gaga
62a.dalam posisi terkurung dengan air 4 warna sekalian tempatnya,
dipuja dengan giri gmana. Sang Nohan watek-nya 8 urip 1,
bersifat seperti pohon gadung,
ulahnya menarik, selalu berperilaku baik, kayunya nangka, burungnya jotan, binatangnya ular naga, sumber
airnya telaga ghni/api, ikannya
udang. Penyakit Sang Nohan: enek/sakit pada hulu hati, biasanya
badannya terasa panas, penyembuhan sakitnya mandi pada lereng bukit berapi,
dengan jumlah air 8 warna sekalian tempatnya, dipuja dengan Siwa Ghni. Sang Ogan watek-nya 7 tanpa urip,
bersifat seperti rumah, tidak mau terkalahkan, cita-citanya sama dengan yang
terpikirkan, agak kacau pikirannya, kayunya
62b.ganggangan, burungnya gagak, binatangnya garudha, sumber airnya telaga tangge, berisi udang, kepiting. Penyakit Sang Ogan perut membesar dan gila kebiasaannya. Tersembuhkan dengan mandi terkurung di bebukitan, dengan air sejumlah 7 warna sekalian tempatnya, dipuja dengan argha gmana. Sang Erangan watek-nya 8 urip 3, bersifat seperti laddha, penjelmaan Dewa Ludra, wilayahnya jalan, kayunya ambuliu, burungnya sara, binatangnya waji, lintang-nya bade, sumber airnya telaga darah, hobinya menjerit, bersumber pada ujung lidah, penyakitnya batuk, nafas tak teratur, ibarat diremas kepiting dari selasela bebatuan, pergi dan diruwat sakitnya di pertengahan jalan dengan jumlah air 8 warna sekalian tempatnya, dipuja dengan margga gmana.
63a.Sang Urungan watek-nya
11 urip 1, bersifat kosong/sepi,
penjelmaan Hyang Sangkara, daerahnya sala
ghni/batu berapi, pohonnya kayu tangi,
burungnya awan panjeneng, binatangnya windhu,
lintang sawa/mayat, sumber airnya telaga awon/abu, kebiasaannya jelek, terkadang suka akan kebajikan, sumber
sakitnya pada telinga, sakitnya muncul setiap malam hari, muntaber, perut
terasa tersengat/tertusuk dan terasa ada kerikil, epilepsi. Penyembuhan sakitnya mandi di pancuran,
dengan jumlah air 11 warna sekalian tempatnya, dipuja dengan Wisnu pañara. Sang Tulus watek-nya 7 tanpa urip,
bersifat kebenaran/tuhuk, pendiam,
pikirannya berbelit-belit, ada aksara di lidahnya, pikirannya kotor, kayunya tangguli, burungnya tuhu-tuhu, binatangnya
63b.landak, sumber airnya telaga tluh/ilmu hitam, berisi ikan lele. Penyakit Sang Tulus pikirannya kacau balau, ulahnya selalu durhaka, dituduh bisa ilmu hitam, penyembuhan sakitnya mesti mandi terkurung di alun-alun/ lapangan, dengan sarana air sejumlah 7 warna sekalian tempatnya, dipuja dengan wana gmana. Sang Dadi watek-nya 6 tanpa urip, bertabiat seperti Sang Dadakon, perilakunya tidak mau dilindungi, kehendaknya berdagang, sangat peduli dengan miliknya, kayunya durian, burungnya dadalu/laron, binatangnya domba, sumber airnya telaga noja, berisi ikan deleg. Penyakit Sang Dadi sangat mendadak, terkadang kumat, tertuduh. Sakitnya dapat diruwat dengan mandi di jalan dengan air sejumlah 6 warna sekalian tempatnya,
64a.dipuja dengan margga gmana. Ini Kala Ngadeg, pada pada hari Saniscara Paing Mrakih, Kala Cakra pada Wrehaspati Pon Uye, dan seputar wuku Wayang pananggal ke-2. Ini seluruh kajeng, disebut Kajeng Sunya adalah pada Wrehaspati Gumbreg, Wrehaspati Menail, bertepatan pada pananggal ke-8, baik untuk membuat penakut. Kajeng Isian jatuh pada Budha Kuningan, Budha Wayang penanggal ke-2, sangat baik untuk membuat bubu dan kungkungan. Kajeng Kipkipan, pada Budha Watugunung bertepatan pada penanggal ke-7, sangat baik untuk membuat sok/bakul untuk berdagang. Ini Kala Wariga namanya, adalah guru dari seluruh kala/waktu, tempatnya sesuai rah/angka satuan, jika rah 2, 6, 10 bertempat di wayabya/barat laut. Jika rah 3, 7 di nerithi/barat daya tempatnya. Jika rah 4, 8
64b.di gneyan/tenggara tempatnya, jika rahnya 0, di ersanya/timur laut tempatnya.
Kala Rangda sesuai wuku,
segala pekerjaan tidak baik/ jelek, seperti wuku
pujut, wariga, warigadian, pahang, menail, dan prangbakat. Ini Dag
Dig Karana namanya sesuai sapta
wara dan penanggal dan pangelong. Sukra
penanggal ke-2, Soma penanggal ke-1, Anggara penanggal ke-10, Budha penanggal ke-7, Wrehaspati penanggal ke-6 dan ke-3 sama
dengan penanggal dan pangelong. Ini Kala Panca Wara namanya, jika pada
Umanis adalah Wisnu di utara, Sri di timur, Kala di barat, Brahma di tengah,
Sunya di selatan. Jika pada Paing, Wisnu di barat, Sri di utara,
Kala
65a.di tengah, Brahma di selatan, Sunya di timur. Jika pada Pon, Wisnu di tengah, Sri di barat, Kala di selatan, Brahma di timur, Sunya di utara. Jika pada Wage, Wisnu di selatan, Sri di tengah, Kala di timur, Brahma di utara, Sunya di barat. Jika pada Kliwon, Wisnu di timur, Sri di selatan, Kala di utara, Brahma di barat, Sunya di tengah. Ini Kala Lwang menurut Sasih dan Sapta Wara: Sasih ke-3 asuji, sasih ke-10 wesaka pada hari Jumat/Sukra, Sasih ke-5 margasira, sasih ke-8 phalguna tepat pada Kamis/Wrehaspati, Sasih ke-6 posya, sasih ke-7 megha tepat pada Sabtu/Saniscara, Sasih ke-11/Jyesta pada hari Senin/Soma, Sasih ke-12/ Saddha pada Minggu/Radite.
65b.Ini tanggal dipakai untuk kegiatan baik dan buruk (ayu-ala). Bepergian tanpa bahaya menurut tanggal/pananggal: tanggal 1 berhasil segala
pekerjaan, tanggal 2 suka tanpa bahaya, tanggal 3 menemui pahala, tanggal 4
tidak berhasil/gagal, tanggal 5 menemui kebahagiaan, tanggal 6 perjalanan
percuma/ilang lampah, tanggal 7 bertemu dengan keberhasilan, tanggal 8 bahaya besar
dijumpai, tanggal 9 jelek/sangat berbahaya, tanggal 10 berhasil dijumpai,
tanggal 11 bertemu dengan harta emas perak, tanggal 12 kematian dijumpai,
tanggal 13 keselamatan sempurna, tanggal 14 kejahatan, tanggal 15 Purnama
namanya, berjumpa dengan emas perak.
Begini penyatuan Wewaran, Rahina, dan Wuku, jika kelahiran orang berbekal sakit, ikuti dan ruwat segala
kejelekan wuku dengan upakara/bebanten
66a.itik/bebek 2 ekor, sata/ayam 5 ekor, suci 2 perangkat. Banten di depan pemuja: pras, lis patlasan kuning, klungah 3 buah, sudhamala, nambulung, gadhing, dilakukan upacara mabyakaon. Lagi tetebasan di tempat tidur: tumpeng putih kuning 2, ayam panggang 7 ditambah tumpeng putih 1, berikut sarana banten lainnya, ditambah tumpeng gurih di dalam sesayut, lamarang ayam tadhah pawitra. Sesayut menurut hari, sebut Bhagawan Tri Wedha, sesari sesuai hari, mandi dengan air sesuai watek dan warna, seperti air gangga, air tirtha, air sudhamala, air raja purna, air klebutan, air lalangon, air mangening, air empul, air mumbul, air campuhan, air
66b.pande besi, air laut, air danau, air sulasih, air langse, air sakti, air watukaru. Begini penebusan kelahiran, jika lahir pada Radite Umanis, babi seharga 555, diolah seperti isi panggungan selengkapnya, guling bebangkit, suci dandanan. Jika pada Soma Paing, penebusannya babi trukumung, diolah seperti isi panggungan selengkapnya, bebek 2 ekor, ayam 9 ekor. Budha Wage, penebusannya babi seharga 444, diolah seperti di atas, ditambah bebek 2, ayam 4. Wrehaspati Kliwon, penebusannya babi seharga 888, diolah seperti di atas,
67a.ditambah bebek 2, ayam putih digoreng, bawang jahe. Ini tenung wuku kacarik, jika orang lahir hanuja
kacarik, Sinta kelahiran orang,
radite, saniscara, disebut carik sato,
jelek dijumpainya, kematiannya salah pati,
mati patrem, mendelik, mati
diupayakan, dirusak oleh sesama orang, jika tidak diupacarai dengan caru/tawur
ayam putih dipanggang, penek 2, ayam wiring dipanggang, penek merah, pencok kacang hijau, telur grih, itu genjo suruh agung, ditambah perak 25,
melakukan caru/tawur di tanah/pretiwi,
sebut Hyang Indra, Bhatara Weya. Landep hari lahir orang carik jadma, Budha carik lmah, jika
mati salah ulah/perilaku, mati jatuh
di tanah, mati mimpi, mati
67b.digigit ular, mati terbenam di air, jika tidak diupacarai caru/tawur ayam sapalaken sebanyak 777, beras acatu, pisang 2, kelapa 1, benang 1, melakukan caru di perempatan, sebut Hyang Wisnu dan bhuta. Jika wuku Ukir kelahiran orang, bertepatan pada Anggara disebut carik patra, Wrehaspati carik taru namanya, kematiannya salah pati, mati tertindih kayu, tertindih gunung, mati berjalan, jika tidak diupacarai dengan caru ayam rinancana, penek lima warna, tuak tanpa disaring, perak 555, beras 5, benang 1, kala pagendhis, dilakukan saat malam hari, sebut Hyang Nini Bhuta Kendho. Wuku Kulantir lahirnya orang, tepat pada Budha disebut carik agung, Anggara carik, Saniscara air, jika mati salah pati,
68a.mati diikat, ditebas, direbut di perjalanan, mati menyelam,
jika tidak diupacarai caru ayam putih
siyungan, penek putih kuning, pencok bukal,
ayam hitam lambrangan 2, perak 777,
beras 7, banten selengkapnya,
dilaksanakan di pintu masuk, sebut Hyang Widhi dalam prabawa-Nya sebagai Banggana, bhuta pandhu nadharnna. Jika wuku Tolu lahir seseorang, tepat pada Anggara disebut patra carik, Wrehaspati disebut carik caru, kematiannya salah pati, mati tertindih lumbung,
tertindih kayu, mati busahan, mati geyengan, jika tidak diupacarai dengan caru penek agung, ayam merah besar,
dipanggang, dikuliti secara baik, telur grih, bubur merah, ukuran kuburan,
perak 888, beras 8, banten
selengkapnya, dilakukan di tempat tidur,
68b.sebut Hyang Komara, simbol bhuta kardha. Gumbreg
kelahiran orang, tepat pada Soma disebut carik
jadma, Sukra disebut carik sata,
kematiannya salah pati, mati
tertikam, mati dengan sengsara, terlempar, jika tidak diupacarai dengan caru tumpeng putih kuning, ayam putih
dipanggang, nasi sebakul, telur grih, sayur satu panci, tuak satu guci, perak
666, beras 6, banten selengkapnya,
diukur di pasar, dilaksanakan di peleburan rumah, sebut Hyang Prana Bhuta Yaksa
Bhumi. Wariga kelahiran orang, disebut carik,
radite dan saniscara adalah carik,
jelek dijumpainya, kematiannya salah pati,
mati difitnah, mati tertikam dari samping, jika tidak diupacarai dengan caru tumpeng putih kuning, ayam putih siyungan, nasi satu wakul,
69a.gri kepiting, sayur satu panci, tuak satu guci, perak 999,
beras 9, dan banten selengkapnya,
dilaksanakan di perempatan rumah, sebut Hyang Pasih Bhuta Yaksa di sapta
Patala. Warigadian lahirnya seseorang, bertepatan pada Soma disebut carik mina, kematiannya salah pati, mati tertindih lumbung,
digigit tikus, tertindih kayu, patik
sambilang, jika tidak diupacarai dengan caru
tumpeng agung, ayam agung dipanggang, lengkap dengan banten-nya, nasi satu wakul, telur grih digoreng, sayur satu panci,
tuak satu guci, perak 444, beras 4, dilaksanakan di tempat tidur, sebut Hyang
Ludra, Bhanaspati Raja. Julungwangi lahirnya seseorang, tepat
dengan Anggara disebut carik patra,
Sukra disebut carik. Kematiannya salah pati, mati terlalap api, disambar
69b.petir, jika wanita mati di bendungan, jika tidak diupacarai caru manca warna, nasi berjejer dan
lengkap, ibarat suguhan Cupak, ayam
dipecel, perak 333, beras 3, berikut banten-nya,
dilaksanakan di jalan raya, sebut Hyang Komara Sidhi, atau Sang Bhatak
Dho. Sungsang lahir seseorang, tepat hari Soma disebut carik, Wrehaspati disebut carik taru, kematiannya salah pati, mati tidur, mati terbuka
matanya, mati terendam air, jika tidak diupacarai dengan caru nasi yang dibeli di pasar, satu wakul penuh, lengkap dengan seluruh isi pasar, daging terpotong,
ayam hitam dipanggang, penek merah
dan hitam, perak 777, beras 7, banten
selengkapnya, dilaksanakan di jogan,
sebut Hyang Wisnu diiringi para bhuta yang menyusup. Wuku Dunggulan
lahirnya seseorang, tepatnya Budha disebut carik
agung, jelek dijumpainya,
70a.kematiannya salah pati, mati salah bicara, mati berperang, mati tercebur di air, digigit kuluyu, jika tidak diupacarai dengan caru nasi satu wakul, rawon satu panci, ayam lima warna, pisang kembang, penek sesuai sanga wara, itik diguling 1, pisang jati, penek menyerupai gunung, lis lima warna, perak 999, beras 9, berikut bebanten-nya, caru dilaksanakan di halaman rumah/natar, sebut Hyang Kala, sang bhuta Kala Sakti. Kuningan lahirnya seseorang, tepat pada Anggara disebut carik patra, Wrehaspati disebut carik taru, buruk dijumpainya, tidak paham akan tutur, juga salah lihat, mati salah pati, mati dipotong-potong sama orang, sangat buruk, mati karena grubug/virus, mati karena duduk, jika tidak diupacarai dengan caru nasi satu wakul, tumpeng dihiasi bunga mitir, ayam dibangun urip,
70b.ditanam di lubang utama, disiram santan, gula, telur, gerih,
telur goreng, semua dipakai caru,
perak 555, beras 5, berikut bebantenan,
dilaksanakan pada tereptepan, sebut
Hyang Uma Sang Bhuta Wrehaspati. Langkir lahirnya seseorang bernama carik mina, tepat pada hari Sukra
disebut carik taru, buruk
dijumpainya, kematiannya salah pati,
mati berjalan, mati padi sambilang,
mati mimpi, jika tidak diupacarai dengan caru
ayam dipanggang, tumpeng 2, nasi
secukupnya, daging pemotongan, dicincang, perak 555, beras 5, berikut
sesajennya, sebut Hyang Durga Kala Wiku, berupa Sang Saka Siyung. Medangsia
lahirnya orang, bertepatan pada Radite disebut carik mina, Saniscara disebut carik
sato, kematiannya salah pati,
mati girsir, disambar ayam, mati
karena disungkil,
71a. jika tidak diupacarai dengan caru tumpeng putih kuning, ayam putih siyungan, nasi secukupnya, diperciki babi di pemotongan seharga 1,
diminum, tuak satu guci, perak 666, beras 6, serta sesajennya, dilaksanakan di
jalan raya, sebut Hyang Nini Putri Bhatari Durga. Pujut
lahirnya seseorang, tepat pada Radite disebut carik toya, kematiannya salah
pati, dan jika Sukra carik toya,
mati epilepsi, mati akibat dicolong, berbisikbisik, tenggelam di air, patut
diupacarai dengan caru ketan hitam/injin secukupnya, ayam hitam secukupnya,
dipanggang, penco kacang hijau, tuak
satu guci, serta sesajennya, sebut Hyang Barunna Sungdha Mala. Pahang lahirnya seseorang, tepat pada
Soma disebut carik lemah, Sukra
adalah carik sato, jika mati salah
mati
71b.mati karena digosok, ditusuk, dilempar, dipukul, mati
tertembak, jika tidak diupacarai dengan caru
tumpeng putih kuning, ayam wiring
kuning dipanggang, daging pemotongan, dicincang, tuak satu guci, perak 555,
berasnya 5, caru dilaksanakan di lebuh/halaman pintu masuk, sebut Hyang
Bayu berupa bhuta ngandang. Krulut lahirnya seseorang tepat pada
Soma disebut carik patre, Wrehaspati carik sato, jika mati salah pati, mati digigit anjing, ular,
disergap binatang buas/macan, jika diupacarai dengan caru nasi sebakul penuh, ibarat suguhan Cupak, ayam panggang, telur 7 butir, ditelan, dicampur garam,
terkumpul, tuak satu guci, perak 666, lengkap dengan sajennya, sebut sarudhe
Bhuta
72a.Kala Bhumi. Mrakih lahirnya seseorang, tepat pada
Sukra dinamai carik agung, jika mati salah pati, mati saat baru menikah, mati
di tengah kenikmatan, makandhet, jika
tidak diupacarai dengan caru tumpeng
putih kuning, ayam putih, nasi sebakul
penuh, daging pemotongan seharga 5, tuak satu guci, perak 999, beras 9, lengkap
dengan sajennya, dilaksanakan antapan/bagian
bawah, sebut Hyang Sangkara, berupa Sang Bhuta Kala Ngapit. Tambir
lahirnya seseorang tepat pada Radite Soma disebut carik jadma, Saniscara dinamai carik
toya. Kematiannya salah pati, mati karena sepanjang
perjalanan bertemu kebatilan, sering tertuduh, dirusak oleh manusia, jika tidak
diupacarai dengan caru tumpeng putih
kuning, ayam dipanggang, telur masak dan mentah, tuak tanpa disaring,
72b.perak 666, beras 6, lengkap dengan sajennya, dilaksanakan di
depan sanggar, sebut Hyang Jagat Sanghara berupa bhuta Moha. Medangkungan lahirnya seseorang
bertepatan pada Soma dan Sukra dinamai padha
carik jadma, kematiannya salah pati,
mati termakan, mati tertindih kayu, mati salah ucap, jika tidak diupacarai,
tidak memahami tutur konon, caru-nya
dengan bakul berjajar, diisi ayam, telur matang, perak 999, beras 9, serta
sesajennya, caru dilaksanakan di
tanah, sebut Hyang Catur Warna berupa Bhuta Sumara. Matal
lahirnya seseorang, bertepatan pada Anggara Wrehaspati dinamai padda cari taru, jika mati salah pati, mati melahirkan, tanpa
peduli akan tutur/ajaran, jika tidak diupacarai dengan caru celeng/babi yang tidak ada kembarannya, diguling, ayam lima
warna sejumlah 5,
73a.tumpeng menurut ayamnya, pisang kembar, pisang jati, penek yang telah usang, nasi satu wakul, sayur satu panci, daging dari tempat pemotongan, tuak satu guci, perak 777, beras 7, serta sesajennya, caru dilaksanakan di ngaras, sebut Hyang Pasi berupa Bhuta Kundhi. Uye lahirnya seseorang tepat pada Soma disebut carik jadma, Budha diinamai carik lemah, jika mati salah pati, mati karena dipatuk kuluyu, mati disingat kerbau dan sapi, mati tertusuk, mesti diupacarai dengan caru beralaskan bakul secukupnya, ayam hitam lambha merah, tupeng agung berujung hitam, balung gagendhing, tuak satu guci, perak 888, beras 8, serta sesajennya, dilaksanakan di kandang, sebut Hyang Sidhatha berupa Bhuta Weya. Menail lahirnya seseorang, tepat pada Anggara dinamai carik ujar, Budha dinamai carik kayu, Wrehaspati
73b.dinamai carik, jika
mati salah pati, mati karena ditimpa latek, dipecel durgha, mati karena
difitnah orang, jika tidak diupacarai dengan caru penek agung, ayam yang besar, nasi secukupnya, ayam pecel,
tuak satu guci, perak 111, beras 1, serta sajennya, caru dilaksanakan di ngantapan/
bagian bawah, menyebut Hyang Ponggawang berupa Bhatara Iswara berwujud Bhuta
Ngani. Prangbakat lahirnya seseorang, tepat pada Soma dinamakan carik jadma, jika mati salah pati, mati karena dipikul, jika
mati karena sakit keras, sulit untuk ditolong, jika berperang ditusuk tanpa
membalas, jika tidak diupacarai dengan caru
tumpeng putih kuning, ayam dipecel,
nasi satu setengah bakul, jangan dilupakan, daging babi seharga 2444, terencana
dengan lengkap, tuak satu guci, perak 666,
74a.beras 6, lengkap dengan sajennya, dekat kuburan, di perempatan
pasar, caru dilaksanakan di
natar/halaman rumah, sebut Hyang Wisnu berupa Bhuta Kasumadang. Bala
lahirnya seseorang, tepat pada Radite disebut carik ujar, Budha dinamai carik
kayu, jika mati salah pati, mati
salah ucap, mati karena difitnah orang lain, mati di perjalanan, mati mimpi, jika
tidak diupacarai caru celeng/babi
seharga 2555, ayam diguling 5, itik 2, pisang kembang pisang jati, nasi satu
bakul, dicampur kacang, ayam dipecal, sayur satu panci, tuak satu guci, perak
555, beras 5, dilengkapi sajennya, caru
dilaksanakan di rumah gedong/di kamar
tidur, sebut Hyang Siwa Dewi berupa Bhuta Lewih. Ugu
lahirnya seseorang, tepat pada Soma dinamai carik
jadma, Budha dinamai carik lemah,
jika mati
74b.salah pati, mati karena difitnah, mati dituduh, tiada hentinya punya musuh, jika tidak diupacarai dengan caru segeh gurih secukupnya, ayam seperlunya, bahan pecel, babi hidup 1, perak 444, beras 4, serta sesajennya, caru dilaksanakan di bawah/antapan, sebut Hyang Sri, Sang Dora Kala, Bhagawan Pidongdhi. Wayang lahirnya seseorang tepat pada Radite dinamai carik sato, Soma dinamai carik jadma, Sukra dinamai carik patra, jika tidak diupacarai sangat buruk matinya, ditinggal kedua orang tua, istrinya, banyak yang mati, kacau balau pikirannya, menemui nasib sangat buruk, marabahaya, mesti dengan caru ayam putih siyungan, panggang bulayag 50, sona dipanggang warna merah, ketipat satu galah, pisang kembang pisang jati, menyerupai gunung, tadah pawitre, sokan 75a.pekulusa bakul, grih tegem, balanak, tuak satu guci, perak 555, beras 5, lengkap dengan sajennya, lis warna-warni, isuh-isuh, buning wong ngengwa, ukuran kuburan, pasar, perempatan, caru dilaksanakan di bagian bawah, sebut Hyang Iswara Hyang Mahakala, Bhuta Ganna. Kulawu lahirnya seseorang tepat pada Budha dinamai carik lemah, Saniscara disebut carik idhep tutur, memakai namun rahasia, tak ada pengetahuannya, jika mati salah pati, mati salah bicara, jika diupacarai dengan caru sokan pawakul, ayam dikubur, tumpeng 2, alasnya benda yang usang, daging pemotongan, dicincang, sayur satu panci, tuak satu guci, perak 777, beras 7, lengkap dengan sajennya, caru
75b.dilaksanakan di tempat pembakaran, sebut Hyang Saka warna, juga Kaki Bhuta Kala. Dukut lahirnya seseorang tepat pada Radite dinamai carik sato, Anggara disebut carik patra, jika mati salah pati, mati tenggelam di air, tertindih kayu, jika tidak diupacarai dengan caru tumpeng putih kuning, ayam dipanggang, sokan sapanjang, pecel garu, perak 999, beras 9, lengkap dengan sajennya, caru dilaksanakan di pertengahan natar/halaman rumah, sebut Hyang Kuma Ngisih, Bhuta Sumantara. Watugunung lahirnya seseorang tepat pada Soma disebut carik jadma, Saniscara dinamai carik, Budha disebut carik lemah, jika mati salah pati, mati karena duduk, jika bepergian menemui bahaya besar, jika tidak diupacarai dengan caru tumpeng agung 2 buah, itik besar, sokan pasipuh, grih getem,
76a.sayur satu panci, tuak satu guci, perak 777, beras 7, lengkap dengan sajennya, caru dilaksanakan di sanggar, dengan menyebut Hyang Panca Rsi, Sang Bhuta Ngangara. Begini uraian Weda Panglukatan/ruwatan, jumlah wuku sejumlah 30, banten-nya tunggal, masing-masing soroh ada sucinya, demikian semua tata kramanya. Begini puja margga gmana, mantra: Ong Ang Ang Mang, margga gmanam, patastra sudha ya namah. Puja Siwa Bharunna, mantra: Ong Ong Ong aditya wregayam,Siwa Bharunna maha siddhya, panglukatan tri mala, panca mala, paripurnna ya namah, Ang Ah. Setra Gmana, mantra: Ong Ang Ang Yang, suksma setra gmanam, pracidyam, sarwwa dosa winasanam, suda ya namah.
Wana Gmana, mantra: Ong
76b.sri jagat paduke byonamah, wana gmanam prama saktyam, papa klesa winasanam, bhur bhwah swah Ong, paripurnna ya nama swaha. Lindhu Gmana, mantra: Ong Ang, naga rajya wro bhuta, lindhu gmana maha saktyem, anglukat papa klesani wighna ya nnama swaha. Siwa Bharunna, mantra: Ong Padma gni Ongkara suryya Siwa Bharunna prama saktyem, anglukat lara wighna ya nama swaha. Thirta Gmana, mantra: Ong Ung Ung Yang, srayu saraswatyam, sarwwa lara winasanam, tirtha gamanam prama sidhyam, paripurnna ya nama nswaha. Siwa Lingga, mantra: Ang Ung Mang, Siwa Lingga maha sidhyem, sarwwa ala winasanam, ya nama swaha. Selesai. Ini puja sifat buruk wuku, baik dipakai sebagai weda-Nya, mantra: Ong Ang Ung Mang, Siwa Saddhasiwa, Pramasiwa yogi ya nama swaha,
77a.sarwwa mala malaram,
bhedanira, prahukuh praharab sudha sidhyem, sarwwa lara winasanam, Ong sri
jagat paduke byoh nama, sarwwa uku winastu sudha ya nnamah, Ong Yang suksma ya
nama swaha. Semua wuku dan wawaran, suci olehnya, karena keutamaan puja ini, sarananya: air
samsam bija kuning, cendana, bunga sebelas pasar, selesai, jangan ada yang
tercecer.
77b.Sahabat- musuh, Sapta Wara di atas musuh, di bawah sahabat:
Saniscara,
Anggara, Soma Saniscara, Budha, Anggara
Radite
Soma
Sukra, Wrehaspati, Budha Sukra,
Wrehaspati, Radite
--------------------------------------------------------------------------------------
Radite,
Soma, Saniscara Radite, Wrehaspati, Saniscara
Anggara
Budha
Budha, Sukra, Wrehaspati Budha,
Sukra, Wrehaspati
---------------------------------------------------------------------------------------
Anggara,
Saniscara, Budha Anggara, Wrehaspati, Sukra
Wrehaspati Sukra
Radite, Soma, Sukra Radite, Soma,
Budha
---------------------------------------------------------------------------------------
Radite, Soma, Budha
Saniscara
Wrehaspati, Anggara, Sukra
78a.Di bawah ini adalah Panca Dawuh bilangan urip Saptawara dan Pancawara.
Keterangan:

Catatan: Jika malam hari, menghitung dari
bawah ke atas.

Suryya Sewanna:

Keterangan:
1 =
Kasa 7 = Kapitu
2 =
Kara 8 = Kaulu
3 =
Katiga 9
= Kasanga
4 =
Kapat 10 = Kadasa
5 =
Kalima 11
= Jyesta
6 = Kaenem 12 = Sadda
78b.Keputusan Sundhari
Bungkah, sebagai caturnya dunia.
Baik dan buruknya, itu semua mesti diikuti oleh manusia, terutama
perihal tatwa itu. Demikian mesti diketahui, bagi siapa saja
yang ingin memahami makna aksara tutur
ini, seperti asal-muasal hari namanya, adalah dewa anglayang atau guru
tunggal, diberi nama Sang Hyang Licin, berupa Tuduh, tak kelihatan karena
amat suci, sungguh tak terpikirkan, inti sari kesunyian, itulah Sang Hyang Licin, guru rupaka/orang tua tanpa ibu,
berwujud Sang Hyang Licin. Alkisahnya:
ada Bhagawan Mredhu, yang berawal dua buah, yakni baik dan buruk, dewa dengan
detya. Sang Hyang Rahu menciptakan segala bhuta kala, Sang Hyang Ketu
menciptakan para dewa, muncullah alam sunia/sepi/hening dan nirmala/suci tiada cacat, terutama windhu/bulat menjadi Sang Hyang Adi Kala, karena konon
79a.berbeda istananya, namun sesungguhnya tunggal, dari yang disebut eka dina/hari yang satu, menjadi wuku Sinta, tersirat perihal baik dan buruk. Atas keberhasilan Sang Hyang Licin dan Hyang Ketu mencipta dwiwara, yakni menga dan pepet, menga sebagai istana Ida Sang Hyang Licin, pepet istananya Sang Hyang Ketu, timbullah malam hari, ada wuku Tambir, ada Triwara, dora/pasah, waya/beteng/alang tegeh, byantara/kajeng, sebenarnya kala, dewa, manusia. Ada wuku Klawu, ada Catur wara, sri, laba, jaya, manala, sebenarnya Bhatari Gangga, Sang Hyang Hayu, Sang Hyang Purusa Wisesa, Sang Hyang Kencana Widdhi. Ada wuku Warigha, ada Panca wara: umanis, paing, pon, wage, kaliwon, sebenarnya Sang Hyang Iswara. Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Mahadewa, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Siwa. Ada wuku Pahang, ada Sad wara: tungleh, aryang, wurukung, paniron, was, mulu, sebenarnya
79b.Asta Bhuta: banas, bhuta, mleca, bhuta, mastika, bhuta, angkara, bhuta. Ada wuku Bala, ada sapta wara: radite, Soma, anggara, budha, wrehaspati, sukra, saniscara, sebenarnya adalah danau, ninura, metri, sunya, mandhala, nikalpa, nisori, yang sesungguhnya apsara dan apsari. Ada wuku Kulantir, ada Asta wara: sri, indra, guru, yama, rudra, brahma, kala, uma, sebenarnya semuanya bhatara, yakni: Sang Hyang Giri Putri, Sang Hyang Indra, Bhatara Guru, Sang Hyang Yama, Sang
Hyang Rudra, Sang
Hayng Brahma, Sang Hyang Sangkara, Sang Hyang Amertha. Ada wuku Langkir,
ada Sangha wara: dangu, jangur, gigis, nohan, ogan, erangan, urungan, tulus,
dadi. Sebenarnya: dangu: bhuta urung, jangur:
bhuta jingkrak, gigis: bhuta reregek,
nohan:
80a.bhuta pitala, ogan:
bhuta jabug, erangan: bhuta bengkung,
urungan: bhuta dharma, tulus: bhuta bayu pramana, dadi: bhuta lwih/sakti berada
dimana-mana. Ada wuku Uye, ada Dasa sila/wara: pandhita, pati, suka, duka, sri manuh, manusa,
raja, dewa, raksasa. Sebenarnya pandhita: dewa, pati: kala, suka: smara, duka: durgha, sri: brattha, manuh:
dharma, manusa: kala lupa, raja: kala tangis, dewa: dewata, raksasa:
kala yang sesungguhnya. Ada wuku
terkumpul semua berjumlah 30 (tiga puluh), yakni: sinta, landhep, ukir, kulantir, tolu, gumbreg, warigha, warigadian,
julungwangi, sungsang, dunggulan, kuningan, langkir, medhangsya,
80b.pujut, pahang, krulut,
mrakih, tambir, medhangkungan, matal, uye, menail, prangbakat, bala, ugu,
wayang, kulawu, dukut, watugunung. Itu semua windhu, tunggal menjadi windhu, dasa menjadi tiga windhu, menjadi dasa sengker namanya. Ada muncul pangalyan. eka sungsang umanis namanya,
ada pananggal dan panglong, sebenarnya danau dan lautan, namanya
sinta dan sungsang, sama-sama menjadi pangalyan
3 macam, sehingga ada roro/dua sasih
yang tunggal disebut dengan tunggal roro,
menjadi sasih kasa, karo, katiga, kapat, kalima, kaenem, kapitu, kaulu,
kasanga, kadasa. Ada dua sasih yang
tunggal bernama jyestha, saddha. Itu
sebagai pelengkap sasih, tunggal
namanya. Sebenarnya satu sasih itu
jumlah harinya 35,
81a.satu sasih
dan sasih purnama tilem, jumlah
harinya 30. Pada tilem nanggap masalah namanya. Setahun kemudian bertemu dan tunggal namanya,
yaitu menghitung hari, tumbuh dan merasuk pada pohon padi, dinamai maharani satiban, dengan jumlah hari 420.
Adapun Ekawara adalah satu,
kehidupan/urip windhu sanya
namanya. Dwi wara adalah mati sebagai kehidupan/urip malam hari, di tengah
tempatnya. Sapta wara, kehidupan/urip gajah, yakni brahmanna dan kahula/rakyat bertempat di arah
tenggara. Sangha wara adalah urip para dewa, di arah timur tempatnya. Dasa
wara adalah urip tutur kamoksan
di antariksa/ angkasa tempatnya. Sang Hyang Tuduh menitahkan/menurunkan para
bhuta dan sifat baik, sehingga ada 4 warigha
di bumi ini, usaddha, agama, terutama tutur
warigha, pada hakikatnya adalah tatwa/filsafat
namanya.
Lagi perihal lahirnya para bhuta kala,
81b.dari badan Sang Adhi Kala, lahir dari taring kiri, Kala Dangastra, lahir dari taring kanan. Kala Syung lahir dari berbagai sandhi. Kala Buku lahir dari usus, Kala Agung lahir dari telinga, Kala Karna lahir dari kaki, Kala Genjer-genjer lahir dari mata, Kala Limun lahir dari bibir, Kala Graha lahir dari mata, Kala Cakra lahir dari pikiran, Kala Angin lahir dari pantat, Kala Uler lahir dari dasar padma. Kala Wisesa lahir dari badan, Kala Dasa Bhumi lahir dari kepala. Kala Udeng lahir dari otot, Kala Atat lahir dari hidung, Kala Mung lahir dari lutut, Kala Rumpuh lahir dari jarijari, Kala Kuwuk muncul pada tenaga, Kala Bancara muncul pada sinar, Kala Durgha Sthana muncul pada mata kiri, Kala Wulan,
82a.lahir dari segala bulu/rambut, Kala Ampas, Kala Kuthila, Kala Gumarang, Kala Cepikan, Kala Caplokan, Kala Pegat, Kala Mutang, Kala Salah Paksa, Kala Tali Wangke, Kala Pacekan, Kala Menga, Kala Urung, Kala Titi Buwuk, Kala Ijal, Kala Injal-injal, Kala Kundhang Kasih, semua itu lahir dari segala jenis bulu/rambut, demikianlah mesti diketahui, penyebab buruk maupun baik, hanya wariga-lah yang mesti digeluti, jangan berbuat durhaka/papa, karena banyak aksara bersifat rahasia, buruk dan baik, ingatlah filosofi/sejarahnya, jangan berperilaku lalai dengan aksara ini. Adapun tentang wawaran, semua itu membawa urip/hidup, itu sebabnya, kala beradu dengan wawaran, oleh Sanghyang Rawu dan Sanghyang Ketu
82b.berebut desa/wilayah di barat laut/bayabya, sama saktinya wawaran
dan kala, ketika kala dikalahkan oleh wawaran, dihidupkan oleh Sang Hyang
Rawu, lalu hidup kembali kala itu,
karena kala pernah mati sekali,
dihidupkan sekali, sehingga 11 namanya.
Kembali berperang melawan wawaran,
banyak yang mati, setiap mati dihidupkan oleh Sang Hyang Ketu. Ada yang mati sebanyak 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan
9 kali, itu sebabnya wawaran semuanya
hidup. seperti disebutkan di depan. Ada
lagi yang berperang berasal dari alam maya/tanhana,
dikatakan dewa bukanlah dewa, dikatakan kala juga bukan kala, mengamuk tak
karuan, disebut dengan kala inghamuk
dan wawaran inghamuk, sama-sama mati,
lalu dihidupkan oleh Sang Hyang Angin,
Sang Hyang Eka
83a.Jala Rsi dihidupkan, jala
bermakna hawan, rsi berarti rasa,
demikian dan ingatlah, jangan sampai lupa maknanya. Lagi ada baik-buruk wawaran, kebenaran dengan kebatilan, tetapi telah bercampur api,
bernama gni rawana. Pada tanggal panglong bercampur dengan sabda, dag dig karanna namanya. Ketika bercampur dengan asap, pati pata namanya, bercampur dengan air,
larung paglangan dan banyu urung namanya, ketika bercampur
kotoran, proktahuk namanya, jika
bercampur api linus, pepedan namanya,
ketika bercampur dengan air dan api, pamacekan
lanang-wadon namanya. Pada sukla paksa/purnama dan kresna paksa/ tilem, ada baik-buruknya,
itu sebabnya mesti memahami wariga
dengan sangat baik. Ingatlah
sebaik-baiknya. Lagi ada baik-buruknya
83b.dewasa, semua dewasa, basah dan lanus, itu adalah dewasa yang
utama namanya, dan semua yang ditanam akan cepat berhasil, antara lain pada
wawaran Dwi wara: menga basah, pepet lanus. Tri wara: dora basah, waya byantara lanus. Catur
wara: sri, laba, jaya, manala,
itu semua lanus. Panca
wara: umanis, paing, pon, wage,
kaliwon, itu semua lanus. Sad wara: tungleh, aryang, wurukung adalah madhya/sedang. Paniron basah, was dan mahulu sama-sama lanus.
Sapta wara: radite, soma
adalah lanus, anggara basah, budha, wrehaspati, sukra adalah lanus, saniscara
basah dan lanus. Asta wara: sri, indra,
guru adalah lanus, yama, ludra,
brahma, kala adalah basah, uma
lanus. Sangha wara: dangu basah, jangur madya/sedang,
84a.gigis madya, nohan,
ogan, erangan basah, urungan madhya,
tulus dan dadi lanus. Dasa
wara: pandhita lanus, pati, pata
adalah basah,suka lanus, duka basah, sri lanus, manuh madya, manusa lanus, raja basah, dewa lanus, raksasa basah, akhir dari wawaran. Eka
wara berada dimana mana pilihlah baik-buruknya basah maupun lanus. Jika basah
tidak baik untuk munuh, lanus selamat
meraih keberhasilan, ingatlah memilih untuk dipakai dewasa, karena dalam aksara
banyak baik-buruknya tersembunyi/ rahasia, di sana banyak mesti dicermati,
seluruh isi/makna aksara ini, baik secara terpisah/masing-masing, salah satu
disebut basah atau lanus menjadi dewasa basah
adalah dewasa jelek, lanus
adalah
84b.dewasa yang baik namanya. cocokan pada setiap Tri wara, yakni: dora ke dora(n) adalah basah/pasah. Waya ke waya(n) bertemu ali(e)ng
tegeh adalah lanus. Byantara
ke byantaran bertemu kajeng adalah lanus. Waya ke byantara
bertemu pasah adalah madhya.
Dora ke dora(n) bertemu kajeng
adalah basah, jangan memakai dewasa
ini, sangat berbahaya membunuh namanya.
Lihatlah wariggha gemet jika
mencari dewasa, utamakan saat
bepergian, lihatlah tanggal, panglong, juga sasih, wawaran, sama baik
dan buruknya, pilih secara seksama jika memakai dewasa, jangan kurang teliti
atau cermat, karena sangat rahasia atma
ala namanya, tanggal dan panglong sama baiknya. Ada lagi tentang urip semua wawaran,
antara lain: Eka wara: luwang
urip 1, bertempat
85a.di arah bayabya/barat
laut. Dwi wara: menga urip 5,
bertempat di purwa/ timur, pepet urip 7, bertempat di pascima/barat. Tri
wara: dora/pasah urip 9, bertempat di dhaksina/selatan,
waya/aleng tegeh/beteng uripnya 4,
bertempat di uttara/utara, byantara/kajeng urip 7, bertempat di pascima/ barat. Catur
wara: sri urip 6, bertempat di ersanya/timur laut, laba urip 5, bertempat di purwwa/timur,
jaya urip 8, bertempat di gneyan/ tenggara, mandhala urip 9, bertempat di dhaksina/selatan. Panca
wara: umanis urip 5, bertempat di
purwwa/timur, pahing urip 9 bertempat di dhaksina/selatan,
pon urip 7, berumah di kulon/pascima/barat, wage urip 4, berumah di uttara/lor/utara, kaliwon urip
8, berumah di madya/tengah. Sadwara: tungleh urip 7, berumah di barat, aryang urip 6, berumah di lor-wetan/kaja- kangin/timur laut, wurukung
urip 5, berumah di timur,
85b.paniron urip 8,
berumah di gneyan/tenggara, was urip 9, berumah di dhaksina/selatan, mulu urip 3, berumah di neriti/kidul-kulon/kelod-kauh/ barat
daya. Sapta wara: radite urip
5, berumah di timur, soma urip 4,
berumah di utara, anggara urip 3,
berumah di kidul-kulon/kelod-kauh/
neriti/barat daya, budha urip 7,
berumah di pascima/barat, wrespati urip 8, berumah di gneyan/tenggara, sukra urip 6, berumah di lor-wetan/
ersanya/timur laut, saniscara
urip 9, berumah di dhaksina/selatan. Asta
wara: sri urip 6, berumah di lor-wetan/timur laut, indra urip 5, berumah di timur, guru urip 8, berumah di gneyan/tenggara, yama urip 9, berumah di dhaksina/selatan, rudra urip 3, berumah di neriti/barat
daya, brahma urip 7, berumah di kulwan/barat, kala urip 1, berumah di bayabya/barat
laut, uma urip 4, berumah di lor/utara. Sangha
wara:
86a.dangu urip 9,
bertempat di dhaksina/selatan, jangur urip 6, bertempat di
airsanya/timur laut, gigis urip 3,
bertempat di neriti/barat daya, nohan urip 9, bertempat di dhaksina/selatan, ogan urip 1, bertempat di bayabya/ barat laut, erangan urip 7, bertempat di pascima/barat,
urungan urip 3, bertempat di neriti/barat daya, tulus urip 8, bertempat di gneyan/
tenggara, dadi urip 4, bertempat di
uttara/utara. Semua itu adalah simbol ketentraman bhuwana agung-bhuwana alit
(alam semesta). Dasa wara: pandhita urip
1, bertempat di arah bayabya/barat laut, pati
urip 2, bertempat di neriti/tenggara, suka uripnya 3, bertempat di kidulkulwan/kelod
kauh/barat daya, duka urip 4,
bertempat di utara, sri urip 5,
bertempat di utara, manuh urip 6,
bertempat di ersanya/timur laut,
86b.manusa urip 7, bertempat di pascima/barat, raja urip 8, bertempat di gneyan/tenggara, dewa urip 9, bertempat di dhaksina/selatan, raksasa urip 10, dari sepuluh menjadi satu, bertempat di bayabya/barat laut. Semua itu adalah manifestasi/prabawa dari Kala dan Dewa, disebut dengan Sang Rawu dan Sang Ketu, yang mengisi atau memenuhi urip seluruh wawaran, ingatlah jangan diabaikan letaknya, karena aksara bersifat rahasia, antara doh-aparek (dekat-jauh), ala-ayu (baik-buruk). Lagi ada penunggalan seluruh wawaran, matunggalan aran ring sasih (penunggalan nama pada bulan) namanya, yakni: Eka wara: luwang simbol Kasa, Dwi wara simbol Karo, Tri wara simbol katiga, Catur wara simbol Kapat, Panca wara simbol Kalima, Sad wara simbol Kenem, Sapta wara simbol kapitu,
87a.Asta wara simbol Kahulu, Sanga wara simbol kasanga, Dasa wara
simbol Kadasa, itulah isi atau yang memenuhi sasih, menjadi satu nama pada
seluruh wawaran, tidak ikut pada Jyesta dan saddha. Sang Jyesta Saddha adalah sasih istananya
para Dewa dan Kala, itu adalah sasih/bulan yang sangat utama, tidak bisa
manusia di dunia/madyapada menggunakan
sasih/ bulan itu, sangat buruk, akan
berdampak atau menemui ajal/kematian, hal ini sering disebut amunuh/membunuh. Bagi manusia utama atau orang suci bijaksana,
boleh memakai seluruh dewasa. Itu mesti
diingat dengan baik, jangan lengah. Ada lagi
yang disebut patengeran sasih (ciri-ciri sasih), sesuaikan dengan posisi matahari, seperti sasih Kapat matahari bergerak dari utara ke
tengah lalu ke selatan, dinamai tengah
ngwe, jika sasih Kahulu, matahari
bergerak dari selatan ke tengah terus ke utara, dinamai juga tengah ngwe. Perhatikan setiap pergantian sasih,
87b.setiap sasih Kadasa,
matahari mengarah ke selatan, tepat pada posisi pertengahan atau berada seakan
di atas kepala, akan tampak bayangan matahari berputar, seperti perputaran roda
(cakra-gilingan) geraknya, bergantian
merasakan sinar matahari. Jika hal ini
dapat dirasakan secara baik, berarti benar bernama sasih ke-4 (kapat), ke-8 (Kahulu), dan ke10 (Kadasa). Jika tidak demikian, akan terjadi kekacauan
di semesta alam (bhuwana agung, bhuwana alit), hal ini disebut arok idhep (pikiran kotor) dan arok ujar (perkataan kasar). Itu mesti diingat secara baik dan penuh
waspada, jangan menyimpang pikirannya, sungguh sangat rahasia namanya. Telah
usai uraian Wariggha Gemet, mengenai hal Sundhari Trus dan Sundari Bungkah, hal
ini mesti menjadi perhitungan semuanya, seperti aksara pada Tutur Wariggha
Putus, bisa dipakai sebagai garis perempatan dunia (catuning bwana agung, bwana alit), dipecah menjadi sifat buruk dan
baik (ala-ayu).
88a.Selesai. Ada lagi uraian
urip wuku dan rumah/tempatnya, berputar menjadi delapan
pekarangan/tempat, antara lain: wuku Sinta
urip 7, berumah di pascima/barat, Landep urip 1, bertempat
di bayabya/barat laut, Ukir urip 4, bertempat di arah utara, Kulantir urip 6,
bertempat di timur laut, Tolu urip 5, bertempat di arah timur, Gumreg urip 8, bertempat di tenggara, wariggha
urip 9, bertempat di selatan, Warigadyan urip 3, bertempat di neriti/barat
daya, Julungwangi urip 7, bertempat di arah barat, Sungsang urip 1, bertempat di barat laut, Dungulan urip 4,
bertempat di lor/utara, Kuningan urip 6, bertempat di timur laut, Langkir urip 5, bertempat
di timur, Medangsya urip 8, bertempat di tenggara, Pujut urip 9, bertempat di selatan, Pahang
urip 3 berumah di neriti/barat daya,
88b.Krulut urip 7, berumah di pascima/barat, Mrakih urip 1, bertempat di barat laut, Tambir urip 4, bertempat di utara, Medangkungan
urip 6, bertempat di timur laut, Matal urip 5, bertempat di timur, Uye
urip 8, bertempat di tenggara, Menail urip 9, bertempat di selatan, Prangbakat
urip 3, bertempat di barat daya, Bala urip 7, bertempat di barat, Ugu
urip 1, bertempat di Barat laut (lor-kulwan), Wayang urip 4, bertempat
di utara, Klawu urip 6, bertempat di timur laut, Dukut urip 5, bertempat di
di timur, Watugunung urip 8, bertempat di tenggara,
selesailah urip wuku beserta tempatnya, sejumlah genap tiga puluh, yang 30 wuku itu dijadikan lima belas,
89a.menjadi purnama tilem. Ada tiga prawani,
tiga suklapaksa (purnama) dan Kresnapaksa (tilem). Pada wuku
perhatikan tempatnya masing-masing, seperti panca
wara, sapta wara, dan wuku berisi purnama serta tilem, jadi
ada yang namanya purnama, tilem, dan prawani sebanyak tiga kali, itu mesti diingat, jangan
diabaikan. Ada lagi tentang purnama dalam wuku dan tilem dalam wuku, yakni: Radite Kliwon Pujut adalah purnamaning
wuku, Radite Kliwon Watugunung
adalah tileming wuku, serta prawani dalam
purnama dan wuku, hingga tileming wuku,
pertemuan prawani, antara lain: saat prawani pangalyan ke Kliwon pada Saniscara Wage Medangsya, prawaninya ada tiga kali, dan pada Saniscara Wage Dukut, prawani dan tilemnya sama-sama tiga kali, itu disebut tri prawani dan tri
89b.purnama tilem.
Ada lagi prawani dina sesuai panca wara dan sapta wara,
yakni: soma wage adalah simbol/juga
anggara kliwon, anggara wage adalah simbol/juga budha kliwon, sukra wage adalah
simbol/juga saniscara kliwon namanya.
Itu adalah prawani dina, janganlah memakai dewasa untuk pitra yajña
(atatiwa), berdampak sangat buruk, dinamai mangirid,
berlaku bagi yang memberi dewasa maupun yang memohon dewasa, ditenggelamkan ke
dalam kawah neraka, hingga
keturunannya termasuk pemberi dewasa akan menemui bahaya besar. Ada lagi prawani
tanggal dan panglong, yakni:
tanggal ke-6, tanggal ke-8, dan tanggal ke-14, itu adalah prawani tanggal dan panglong
namanya, janganlah memakai dewasa tersebut, karena semua dewasa sangat buruk,
akibatnya tidak bisa bekerja, sangat banyak upacaranya, tidak akan berhasil,
sangat buruk, akan berdampak 90a.umur
pendek/mati, itulah disebut tri prawani
dina, juga prawani tanggal panglong
namanya, jangan diabaikan, sangat rahasia. akan dirasakan hingga keturunan
seterusnya berumur pendek, sangat buruk.
Ingatlah selalu, jangan kurang waspada.
Beginilah asal-muasal membuat wawaran,
dina, tidak diikuti dasa wara, hingga perolehan harta
diawali dengan: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9.
Setelah itu dipadukan/dicampur, lalu ambil uripnya secara benar, dipakai
pada tempat/letaknya, berjumlah sembilan pekarangan/tempat, berputar sesuai
rumah sapta waara, panca wara, sad wara,
tri wara, catur wara, asta wara, sanga wara, dwi wara, eka wara. Ini
perhitungan wawaran, jumlah urip, di alam semesta (bwana agung, bwana alit) adalah sebanyak
45, dibagi
90b.sesuai
letak dan urip-nya, sebagai dasar kelepasan/alepasan adalah wawaran
dengan jumlah artha 45, ini dibagi
menjadi sembilan karang/ tempat.
Alih bahasa: Dr. Drs. Anak Agung Gde Alit Geria, M.Si.