Dalam kajian
FILSAFAT ILMU KAJIAN ONTOLOGIS
Sapuh Leger berasal dari kata dasar “sapuh” dan “leger”. Dalam kamus Bali-Indonesia, terdapat kata sapuh yang artinya membersihkan, dan kata leger sinonim dengan kata leget (bahasa jawa) yang artinya tercemar atau kotor. Sehingga secara etimologi sapuh leger diartikan pembersihan atau penyucian dari keadaan tercemar atau kotor.
Kata “Sapuh Leger” di Bali secara khusus dihubungkan dengan pertunjukkan wayang dalam kaitannya untuk pemurnian kepada anak/orang yang lahir tepat pada wuku wayang dalam siklus kalender tradisional Bali (Di Jawa juga ada bila kalender-nya lengkap). Secara ritual upacara pemurnian dinamakan lukat/nglukat, yaitu suatu aktivitas untuk membuat air suci (tirta) yang dilakukan baik oleh seorang pendeta (pedanda/pemangku) maupun seorang dalang (Mangku Dalang) dengan tujuan untuk membersihkan mala (kekotoran) rohani seseorang. Secara keseluruhan, wayang sapuh leger adalah suatu drama ritual dengan sarana pertunjukkan wayang kulit yang bertujuan untuk pembersihan atau penyucian diri seseorang akibat tercemar atau kotor secara rohani
Secara tradisi pertunjukkan wayang sapuh leger merupakan suatu peninggalan budaya kehidupan masyarakat Bali yang diadatkan dan dianggap sakral, maka ia termasuk wali (bagian upacara) diselenggarakan untuk upacara keagamaan (manusia yajna) yaitu untuk anak/orang yang lahir pada wuku wayang. Pertunjukkan ini berfungsi sebagai inisiasi, merupakan salah satu upacara ritus yang menyangkut keselamatan kehidupan umat manusia pendukung budaya tersebut. Hal ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dalam perilaku kehidupan social masyarakat Bali, dengan peristiwa tetap secara periodik, berulang tiap-tiap 6 bulan (210 hari) menurut perhitungan kalender Bali atau 7 bulan Masehi
Dalam Cerita Wayang Lakon Sapu Leger, diceritakan Dewa Kala akan memakan segala yang lahir pada wuku wayang (menurut kalender Bali) atau yang berjalan tengah hari tepat wuku wayang. Atas petunjuk ayahandanya Dewa Siwa, Dewa Kala mengetahui bahwa Dewa Rare Kumara putra bungsu dari Dewa Siwa lahir pada wuku wayang.
Pada suatu hari bertepatan pada wuku wayang, Dewa Rare Kumara dikejar oleh Dewa Kala hendak dimakannya. Dewa Rare Kumara lari kesana ke mari menghindarkan dirinya dari tangkapan Dewa Kala. Ketika tengah hari tepat, dan dalam keadaan terengah-engah kepayahan Dewa Rare Kumara nyaris tertangkap Bhatara Kala kalau tidak dihalangi oleh Dewa Siwa. Oleh karena dihalangi oleh Dewa Siwa maka Dewa Kala hendak memakan ayahandanya. Hal ini disebabkan karena Dewa Siwa berjalan tengah hari tepat dalam wuku wayang.
Diceritakan selanjutnya, Dewa Siwa rela dimakan oleh putranya Dewa Kala,
dengan syarat Bhatara Kala dapat menterjemahkan dan menerka ini serangkuman
sloka yang diucapkan Dewa Siwa. Bunyi sloka tersebut : “Om asta pada sad
lungayan, Catur puto dwi puruso, Eko bhago muka enggul, Dwi crengi sapto
locanam” Dewa Kala segera menterjemahkan sloka itu serta menerka maksudnya ; “Om
asta pada, Dewa Siwa berkeadaan kaki delapan, yaitu kaki Dewa Siwa enam kaki
Dewi Uma dua, semuanya delapan, “Sad Lungayan, tangan enam yaitu tangan Dewa
Siwa empat, tangan Dewi Uma dua semua enam, “ Catur puto, buah kelamin
laki-laki empat, yaitu buah kelamin Dewa Siwa Dua, buah kelamin lembu
dua,semuanya empat, “ Dwi puruso, dua kelamin laki-laki, yaitu kelamin Dewa
Siwa satu, kelamin lembu satu, semuanya dua, “Eka bhago, satu kelamin perempuan
yaitu kelamin Dewi Uma, “Dwi crengi dua tanduk yaitu tanduk lembu, “ Sapto
locanam, tujuh mata yaitu mata Dewa Siwa dua, mata Dewi Uma dua, mata lembu
dua, yaitu hanya enam mata tidak tujuh, mana lagi saya tidak tahu.
Dewa Siwa bersabda mataku tiga (Tri Netra) diantara keningku ada satu mata
lagi, mata gaib yang dapat melihat seluruh alam ditutup dengan cudamani.
Akhirnya Dewa Kala tidak dapat menerka dengan sempurna sloka itu, tambahan pula
matahari condong kebarat, maka Dewa Kala tidak berhak memakan Dewa Siwa
ayahandanya. Karena itu Dewa Kala meneruskan pengejaran kepada Dewa Rare Kumara
yang telah jauh larinya masuk ke halaman rumah-rumah orang.
Akhirnya, pada malam hari bertemu dengan seorang dalang yang s edang mengadakan pertunjukan wayang, Rare Kumara masuk ke bumbung (pembuluh bambu) gender wayang (musik wayang) dan Dewa Kala memakan sesajen wayang itu. Oleh karena itu, Ki Mangku Dalang menasehati Dewa Kala agar jangan meneruskan niatnya hendak memakan Dewa Rare Kumara, karena Dewa Kala telah memakan sesajen wayang itu sebagai tebusannya. Dewa Kala tidak lagi berdaya melanjutkan pengejarannya, sehingga Dewa Rare Kumara akhirnya selamat. Dengan demikian dikisahkan Dewa Rare Kumara sebagai mitologi bahwa anak yang lahir pada hari yang bertepatan dengan Wuku Wayang dianggap anak sukerta dan akan menjadi santapan Bhatara Kala, karena itu anak bersangkutan harus dilukat dengan tirta Wayang Sapuh leger.
Dalam ajaran agama Hindu ada tiga penggambaran sifat manusia yaitu sifat satwam,sifat rajas dan sifat tamas. Ketiga sifat itu ada dalam diri manusia. Hanya yang menjadi titik permasalahan, dari ketiga sifat tersebut, sifat mana yang lebih ditonjolkan pada diri manusia. Jika sifat satwam yang ditinjolkan maka sifat Dewa Rare Kumara yang lebih dominan ditampilkan, dimana sifat Dewa Rare Kumara penuh dengan sifat welas asih, suka menolong dan penyayang, sehingga Dewa Rare Kumara menjadi suatu keyakinan serta kepercayaan bagi wanita Bali yang mempunyai anak kecil, bahwa Dewa Rare Kumaralah yang membantu dan memelihara anak mereka. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya Pelangkiran (tempat suci yang terbuat dari kayu) sebagai tempat memuja Dewa Rare Kumara, ditempatkan di kamar tidur si anak. Begitu pula sebaliknya, jika sifat rajas dan tamas yang lebih dominan pada diri manusia maka sifat Dewa Kala yang akan ditampilkan sehingga cenderung akan bersifat angkuh, rakus dan egoisme.
Di dalam cerita sapuh leger diungkapkan Betara Kala hanya mampu menebak dari badan fisik Dewa Siwa, seperti kaki beliau, tangan beliau, alat kelamin beliau dan sebagainya. Akan tetapi, Dewa Kala tidak mampu menebak mata ketiga dari Dewa Siwa. Kalau kita analisis kembali cerita sapuleger bahwa Dewa Kala hanya mampu melihat badan fisik dari Dewa Siwa, tetapi tidak mampu melihat dunia yang ada di luar kekuatan diri manusia atau kekuatan Tuhan. Sama halnya dengan manusia yang dipengaruhi oleh keinginan dan hawa nafsu dia hanya mampu melihat alam sekala (alam nyata) tetapi tidak mampu melihat alam niskala (alam maya).
Lakon Dewa Kala (Batara Kala di Jawa) mendapat kedudukan yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Bali, karena lakon tersebut termasuk mitos yang diyakini dan dipercayai. Menurut Peursen, mitos adalah sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang karena mitos pada hakekatnya adalah cerita yang mengandung berbagai simbol dan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat magis dan religius. Sejalan dengan pendapat tersebut diatas, bahwa lakon Dewa Kala dalam pertunjukkan wayang sapuh leger adalah jenis cerita yang mengandung pasemon filosofik dan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat magis-religius.
Orang Bali secara mitologis menganggap pertunjukkan wayang berasal dari dewa-dewa di sorga. Mitos asal-usulnya disebutkan dalam dua naskah lontar yaitu lontar Siwagama dan lontar Tantu Panggelaran. Dalam lontar Siwagama menyebutkan sebagai berikut:
“sinasa ring lemah, ryyarepaning saluagung, ginaweken pnggung Hyang Trisamaya, kumenaken kelirning awayang Bhatara Iswara hudipan, rinaksa de Sanghyang Brahma Wisnu, ginameling langon-langon, winahyaken lampah Bhatara kalih, Sanghyang Kala Ludra lawan Bhatari Panca Durga, sira purwakaning hana ringgit ring Yawa mandala, tinonton ing wwang akweh”
Dalam terjemahan bebas artinya
“Di bumi tepatnya di depan rumah Bale Gede, dibuatkan sebuah panggung atau arena Hyang Trisamaya, digelar pertunjukkan wayang memakai kelir, Bhatara Iswara bertindak sebagai dalang/pembicara, didampingi oleh Sanghyang Brahma dan Sanghyang Wisnu, diiringi gamelan Gender dan kecapi, menyanyikan lagu gula ganti, diikuti dengan gerak tari yang menawan, menceritakan perjalanan kedua dewata, yaitu Sanghyang Kala Ludra/Bhatara Siwa dengan Bhatari Panca Durga/Dewi Uma, demikianlah awal mula adanya wayang (ringgit) di bumi Jawa, orang yang menonton sangat banyak”.
Sementara itu lontar Tantu Panggelaran juga menyebutkan tentang asal mula pertunjukkan wayang yang berasal dari dewa-dewa di sorga. Adapun isinya adalah sebagai berikut:
“…Rep saksana Bhatara Iswara Brahma Wisnu umawara pandah Bhatara Kalarudra: tumurun maring madyapada hawayang sira, umucapaken tattwa Bhatara mwang Bhatari ring bhuwana. Mapanggung maklir sira, walulang inukir maka wayangnira, kinudangan panjang langonlangon. Bhatara Iswara sira hudipan, rinaksa sira de Hyang Brahma Wisnu. Mider sira ring bhuwana masang gina hawayang, tineher habandagina hawayang: mangkana mula kacarita nguni..”
Dalam terjemahan bebas artinya
“Para dewa menjadi takut, Siwa yang berwujud Kalarudra berkeinginan akan membinasakan segala isi dunia. Bhatara Iswara, Brahma, dan Wisnu mengetahui hal itu, kemudian turun ke bumi dan mengadakan pertunjukkan wayang. Mereka menceritakan siapa sesungguhnya Kalarudra dan Durga itu. Pertunjukkan itu diadakan di atas panggung dengan kelir, sedangkan wayang-wayangnya dibuat dari kulit binatang yang diukir dan dipahat disertai nyanyian yang menawan. Iswara bertindak sebagai dalang, didampingi oleh Brahma dan Wisnu. Mereka berkelana di bumi ini dengan bermain musik dan memaikan wayang. Dengan ini terciptalah suatu pertunjukkan wayang kulit”.
Naskah lontar Siwagama dan Tantu panggelaran, cukup jelas menyebutkan adanya pertunjukkan wayang lengkap dengan aparatusnya. Walaupun secara ekspilisit disebutkan asal mula pertunjukkan wayang ada di Jawa (Yawa Mandala), namun secara implisit mendekati bentuk pertunjukkan wayang kulit di Bali. Hal itu ditandai dengan digelarnya wayang kulit di tempat khusus (Bale Gede), dalang dibantu 2 orang kanan dan kiri disebut katengkong/tututan, serta menggunakan iringan/gamelan gender. Ketiga dewa (Bhatara Iswara, Brahma, dan Wisnu) sampai sekarang diyakini oleh dalang-dalang Bali membantu mensukseskan pertunjukkan wayang, hal ini jelas sekali tercantum dalam Dharma Pewayangan.
Menurut Lontar Sapuh Leger, Bhatara Siwa memberi ijin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku wayang. Berdasarkan isi lontar tersebut diatas, umat Hindu pada umumnya, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada hari itu, demi keselamatannya, orang-orang Bali berusaha mengupacarai-nya dengan mementaskan wayang sapuh leger, walaupun alat-alat perlengkapannya harus dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen (banten) jenis wayang lainnya. Sehingga anak-anak yang lahir pada wuku wayang mempunyai keistimewaan tersendiri dalam hal upacara pembersihannya.
KAJIAN EPISTIMOLOGIS
Dalam pentas pewayangan ada 3 jenis pertunjukkan wayang yang mendapat kedudukan istimewa diantara jenis wayang lainnya, yakni: Wayang Sapuh Leger, Wayang Lemah, dan Wayang Sudamala yang dianggap sakral karena memiliki fungsi ngruwat. Namun diantara ketiga wayang itu, wayang sapuh leger yang paling istimewa, kenyataan ini didukung oleh ciri-ciri spesifik antara lain:
Wayang Sapuh Leger menggunakan repertoar khusus yaitu Batara Kala, suatu mitos yang diyakini ada dan sangat menakutkan serta berbahaya.
Wayang Sapuh Leger harus dilengkapi sesajen (banten) meliputi pohon pisang (gedebong) berikut buah jantungnya, serta berbagai sesajen lainnya
Wayang Sapuh Leger hanya boleh dipergelarkan oleh seorang dalang yang telah disucikan (Ki Mangku Dalang/Sang Mpu Leger) dan memahami isi Lontar Dharma Pewayangan dan Lontar Sapuh Leger.
Ketiga jenis wayang tersebut termasuk sacral karena merupakan bagian dari upacara yang berada dalam lingkungan siklus kehidupan manusia (Manusa Yadnya). Hanya dipertunjukan pada anak yang lahir pada wuku wayang, terutama sekali yang lahirnya persis pada Sabtu/Saniscara Kajeng Kliwon Tumpek Wayang. Maskipun kenyataan di lapangan bahwa penyelenggaraannya tidak pada hari sabtu saja tetapi dimulai dari hari senin sampai sabtu dalam wuku wayang, bahkan ada orang Bali yang mengupacarai anaknya sampai tiga kali. Dengan demikian ia bersifat religius, magis dan spiritual, yang berhubungan dengan wawasan mitologis, kosmologis, dan arkhais, sehingga memunculkan simbol-simbol yang bermakna bagi penghayatan dan pemahaman budaya masyarakat Bali. Simbol-simbol tersebut terungkap baik dalam lakon, sajian artistic, fungsi, sarana, dan prasarana yang digunakan, sedangkan maknanya mengendap dan menjadikan system nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tinggi bagi kelakuan manusia Bali.
Wayang Sapuh Leger yang sering dipentaskan di Bali bersumber pada lontar Kala Purana; Japa/cepa Kala; Kidung Sang Empu Leger; Kala Tatwa; Kekawin Sang Hyang Kala; Tutur Wiswa Karma dan Kidung Sapuh Leger. Semua sumber di atas diolah atau dikemas sedemikian rupa oleh dalang-dalang Bali sehingga banyak terdapat variasi struktur lakon. Hal itu sudah menjadi gejala umum pada pementasan wayang kulit Bali, karena yang terpenting bukan strukturnya, melainkan di sesuaikan dengan kebutuhan lakon dan fungsinya. Wayang Sapuh Leger sebagai genre wayang kulit (parwa) Bali, secara structural terikat oleh kaidah-kaidah struktur dramatic dan teatrikal yang berlaku dalam pewayangan kulit Bali. Sebagai seni teater, drama ritual ini merupakan seni komplek, kolektif, dan ansambel artinya, penyajian ini tidak mungkin dipergelarkan dengan baik tanpa melibatkan hampir seluruh ilmu pengetahuan dan cabang seni, serta komponen-komponen yang membentuknya sebagai struktur bangunan yang arsitektural.
Pentas pewayangan sapuh leger pada dasarnya mengisahkan asal-usul kelahiran dan perjalanan Batara Kala, dimana ayahnya Dewa Siwa memberi ijin kepadanya untuk memangsa anak/orang yang lahir pada Tumpek Wayang, kemudian jenis-jenis korbannya, lolosnya korban, tipuan Dewa Siwa tehadap Kala dengan memberikan teka-teki; peranan dalang sebagai pemenang, meredam kerakusan Kala. Aspek angkara digambarkan amat kuasa dan kuat, dalam mitos ini diwujudkan sebagai raksasa besar dan kuat berwujud Batara Kala yang taktertandingi oleh para Dewa. Hal ini member petunjuk bahwa kuasa keteraturan, kebaikan, kebijakan, atau aspek positif dari Dewa sebenarnya selalu terancam oleh kuasa ketidak teraturan, kekacauan, atau aspek negative dalam diri manusia. Batara Guru dalam mitos digambarkan hanya dapat melemahkan Kala, tetapi tidak dapat melenyapkannya sama sekali, karena Kala adalah aspek angkara atau negative yang bersumber daripada dirinya juga. Secara simbolis cara melemahkan potensi angkara atau aspek negative dalam diri manusia diperagakan melalui pentas dengan membatasi waktu-waktu makannya (siang dan malam hari serta kelahiran pada Tumpek Wayang), ritual, dan mantram dilakukan oleh Batara Guru yang menjelma menjadi dalang. Dengan peragaan itu berarti bahwa kuasa keangkaramurkaan dilemahkan atau hanya dibuat lemah oleh aspek kesucian. Lakon Sapuh Leger mengungkapkan ajaran mistikisme yang masih dipraktekan dalam kehidupan masyarakat Bali.
Mistikisme lakon Sapuh Leger dalam konteks kosmologis memberikan paham subyektif terhadap alam dari masyarakat Bali yang jelas nampak dari konsepsi buana agung dan buana alit, yaitu suatu konsepsi yang didasari oleh “ Ide kesatuan”, ide dasar dimana manusia harus melakukan penyatuan terhadap alam secara serasi, selaras, dan seimbang. Mitos ini sangat serasi dengan perumpamaan kadi manic ring cacupu (seperti janin dalam rahim Ibu), dimana manusia diumpamakan manik dan alam sebagai cecupunya yang mengandung makna, manusia hidup dilingkupi oleh alam dan dari alamlah manusia mendapatkan sarana untuk hidup. Dari perumpamaan ini nampaklah manusia itu terhadap alam adalah bebas dalam keterikatan atau terikat dalam kebebasan, sebagaimana Kala diberi kebebasan dalam keterikatan memangsa orang yang menjadi haknya.
Wawasan kosmologis memberikan paham subyektif terhadap keadaan alam ( Buana Agung), adalah bertingkat yaitu: alam atas (Swah Loka) adalah tempat para Dewa yang berada diatas (lebih utama) dari kehidupan manusia; alam tengah (Buah Loka) adalah Bumi, tempat manusia hidup; dan alam bawah ( Bhur Loka) adalah alamnya para bhuta. Ketiga alam ini merupakan satu-kesatuan yang tak terpisahkan, bagaikan ruang dalam pakeliran wayang kulit. Segala sesuatu yang ada dalam yang satu, harus ada dalam yang lain, termasuk sifat Dewata, Bhuta, Manusia dan sebagainya.
Sistem nilai budaya kesenian sacral ini maknanya adalah hakekat hidup manusia, hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hakekat persepsi manusia dengan waktu, hakekat karya manusia, dan hubungan manusia dengan sesame manusia. Sehingga tepat bahwa pertunjukan Wayang Sapuh Leger berkaitan dengan upacara Manusa Yadnya, yaitu ritual yang berhubungan dengan siklus kehidupan manusia. Wayang Sapuh Leger kalau diamati dari aspek filosopisnya mengikuti konsep yang berorientasi spasial, temporal, dan spiritual. Secara temporal pertunjukan Wayang Sapuh Leger diselenggarakan pada saat tertentu saja yaitu pada saat Tumpek Wayang menurut kalender/pawukon Bali.
Dalam pementasan, wayang sapuh leger memiliki beberapa ketentuan khusus yang harus dimiliki oleh seorang Amengku Dalang yang berkewenangan sebagai pemuput dan dibantu oleh yang lainnya, adalah sebagai berikut :
Dalang seharusnya seorang Dalang Brahmana yaitu seorang Pandita sebagai Dalang dan atau yang berlatar belakang dalang yang disebut Ida Mpu Leger.
Beliau adalah seorang Mpu Leger yang mampu dan paham serta menguasai Ketattwaning / Dharma Pewayangan.
Beliau juga tahu dan paham serta menguasai mantram pengelukatan seperti : Agni Nglayang, Asta Pungku, Dangascharya, Sapuh Leger serta mantram pengelukatan lainnya.
Beliau memang benar-benar mampu dan menguasai Gagelaran sebagai seorang Pandita (Mpu Leger) dan dalam segala tindak tanduk dan tingkah laku tiada terlepas dari Sesana Kawikon (siwa sesana) antaranya sebagai Sang Satya Wadi, Sang Apta, Sang Patirthan Dan Sang Penadahan Upadesa (siwa-sadha siwa-parama siwa).
Selain ketentuan khusus terhadap dalang dalam pementasan wayang sapuh leger terdapat juga bebantenan/sesajen yang harus disiapkan sebelum pementasan. Bebantenan untuk umum yang digunakan dalam pementasan wayang sapuh leger adalah sebagai berikut:
Ketentuan Umum
Untuk upakara dimaksud adalah dihaturkan kehadapan-Nya bagi sang maweton secara keseluruhan antaranya :
- Ngadegang Sanggar Tuttuan / Tawang (sanggar tawang ).
- Ring Sor Surya : Caru mancasata
- Banten Panebasan san Maweton
- Banten arepan Kelir
- Ring Lalujuh Kelir
- Banten Sang Dalang Mpu Leger
- Bebangkit Asoroh
- Genah tirtha Mpu Leger, Sangku Suddhamala
- Tebasan Sungsang Sumbel
- Tebasan Sapuh Leger
- Tebasan Tadah Kala
- Tebasan Penolak Bhaya
- Tebasan Pangenteg Bayu
- Tebasan Pengalang Hati
- Sesayut Dirghayusa ring Kamanusan
- Daksina Panebusan Bhaya
- Medudus Luwun setra lan luwun pempatan, luwun pasar, gumpang injin, gumpang ketan, gumpang padi, rambut Ida Pandita lan menyan dengan upakara suci pejati lan segehan panca warna ditempatkan di pane.
Semua proses ini dilakukan didepan angkul angkul baru dilanjutkan dengan pelukatan secara bersama sama ring pemedal lebuh dengan perlengkapan sebagai berikut:
- Tirta pemuput
- Tirta Kelebutan
- Tirta Campuan
- Tirta Segara
- Tirta Melanting
- Tirta Pancuran
- Tirta Tukad Teben Seme/Setra
- Tirta Padmasari ring Sekrtariat
- Tirta Merajan soang soang
- Tirta Pengelukatan Wayang
- Tirta Jagat Nata
- Tirta Pemuput/ Sulinggih
Ketentuan Khusus
Disamping upakara secara umum di atas, untuk masing-masing dari mereka yang dibayuh dibuatkan upakara khusus sesuai hari kelahiran, antara lain suci pejati, Praspengambean tumpeng 7 asoroh, daksina gede sesuai urip kelahiran, sesayut pengenteg bayu, merta utama, pageh urip dan disurya munggah Suci pejati, Bungkak Nyuh Gading lan pengeresik jangkep dan dilengkapi sesayut-sesayut sesuai dengan kelahiran ; :
- Wetu Redite : Sesayut Sweka Kusuma
- Wetu Soma : Sesayut Nila Kusuma Jati/Citarengga
- Wetu Anggara : Sesayut Jinggawati Kusuma /Carukusuma
- Wetu Budha : Sesayut Pita Kusuma Jati/Purnasuka
- Wetu Wraspati : Sesayut Pawal Kusuma Jati/Gandha Kusumajati
- Sesayut sang wetu Sukra: Sesayut Raja Kusuma Jati/Wilet Jaya Raja Dira
- Wetu Saniscara : Sesayut Gni Bang Kusuma Jati/Kusuma Gandha Kusuma
Sebagai sajian ritual, nilai-nilai yang terkandung dalam pertunjukan Wayang Sapuh Leger adalah nilai religius yang diolah sedemikian rupa oleh pencipta seni pertunjukan (dalang). Nilai-nilai religius yang sangat menonjol dalam kehidupan masyarakat Bali, menyebabkan kesenian ini masih memiliki kemantapan dalam kehidupan masyarakat Bali.
Beberapa tattwa atau filsafat yang dipakai rujukan pada pelaksanaan Upacara Bebayuhan Sapuh Leger ini salah satunya rujukan dari ;
- Lontar Kala Purana ( Pusdok Denpasar lembaran 1 s/d 89).
- Lelampahan Wayang Sapuh Leger (K 2244) 1 s/d 100 dan bebantenannya.
- Kidung Sapuh Leger (645).
- Pedoman Pelaksanaan Bebayuhan Sapuh Leger Oleh Ida Bgs Puja
- Warespati Tatwa lan Bebayuhan Oton
KAJIAN ASKSIOLOGIS
Mitologi Sapuh Leger mengharuskan masyarakat umat Hindu di Bali percaya bahwa dilarang bepergian pada tengai tepet (siang hari), sandyakala (sore hari) dan tengah lemeng (tengah malam), karena diyakini bahwa waktu-waktu tersebut adalah waktu trasisi yang sering mengancam keamanan seseorang yang melakukan perjalanan. Sehingga orang tua pada jaman dahulu sangat melarang anak-anaknya berpergian pada waktu-waktu tertentu. Jika dikaji secara filosofis sangat sarat akan makna yang terkandung didalamnya.
Tumpek Wayang itu sendiri merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada Sabtu/Saniscara Kajeng Kliwon Wuku Wayang, dimana Sabtu merupakan hari terkhir dalam perhitungan Sapta Wara; Kajeng adalah hari terakhir dalam peritungan Tri Wara; dan Kliwon menjadi hari yang terakhir dalam kaitannya dengan perhitungan Panca Wara. Sedangkan Tumpek Wayang adalah Tumpek terahir dari urutan enam Tumpek yang ada dalam siklus Kalender Pawukon Bali. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, Tumpek Wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu-waktu peralihan, dan oleh karnanya anak-anak yang lahir pada saat ini ditakdirkan menderita karena mengalami gangguan emosi dan menyusahkan orang lain.
Untuk melawan akibat keadaan yang tidak menguntungkan itu, orang Bali melakukan upacara “penebusan dosa khusus“ yang dinamakan lukatan Sapuh Leger, dengan harapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) akan menganugrahkan nasib baik pada anak itu dan menjamin bahwa hari “lahir yang tidak baik“ itu tidak akan berpengaruh buruk pada perkembangan selanjutnya.