1. Kemandirian;
Manusmruti 4.159
sarvaṃ paravaśaṃ duḥkhaṃ sarvamātmavaśaṃ sukham,
etad vidyāt samāsena lakṣaṇaṃ sukhaduḥkhayoḥ.
Terjemahan :
Segala sesuatu yang berada dalam kendali orang lain itu menyakitkan. Semua yang ada dalam pengendalian diri adalah kebahagiaan. Ini adalah definisi kebahagiaan dan rasa sakit secara singkat.
2. Bhagawad Githa. IV - 36
api ced asi papebhyah
sarvebhyah papa-krt-tamah
sarvam jnana-plavenaiva
vrjinam santarisyasi
Terjemahan :
Walaupun engkau dianggap sebagai orang yang paling berdosa di antara
semua orang yang berdosa, namun apabila engkau berada di dalam kapal
pengetahuan rohani, engkau akan dapat menyeberangi lautan kesengsaraan.
3. Manawa Dharmasastra V. 109
Adbhirgatrani cuddhyanti manah satyena cuddhyati,
widyatapobhyam bhutatma, buddhir jnanena cuddhyati.
Terjemahannya;
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran,
jiwa disucikan dengan pelajaran suci dan tapa brata,
kecerdasan dengan pengetahuan yang bena
Bisama/pesan Ida Maharsi Markandeya saka 844 (922M) diwilayah Danau Buyan
PRASASTI Tamblingan yang ditulis pada tahun 844 Saka (922 M), ketika Sri
Ugrasena menjadi Raja di Bali menetapkan bahwa wilayah Danau Buyan, Tamblingan
dan sekitamya (sekarang dikenal sebagai kawasan Bedugul) adalah kawasan suci.
Pada tahun Saka 858 beberapa keturunan Ida Maha Rsi Markandeya yakni warga
Bhujangga Waisnawa menetap di Buyan Tamblingan ditugaskan untuk menjaga
kesucian kawasan itu. Beliau membangun pura dan pasraman. Raja-rajà dari
dinasti Warmadewa berikutnya antara lain Sri Jayapangus di tahun 1177 M dan Sri
Bhatara Hyang Hyang Adidewa Paramaswara di tahun 1320 M menguatkan keyakinan
kesucian wilayah Buyan-Tamblingan dengan menegaskannya dalam prasasti-prasasti
yang berisi “kutukan” (bhisama) bagi pelanggar kesucian. Sejarah mencatat bukti
kutukan Bhatara Paramaswara atas pelanggaran kesucian wilayah itu berupa
malapetaka yang dahsyat:
- Hancurnya kerajaan Kalianget yang dipimpin Raja I Dewa Kaleran pada awal abad- 16 karena beliau tidak menjaga kesucian kawasan Buyan-Tamblingan (Bedugul).
- Bencana yang menimpa Kerajaan Buleleng di bawah pimpinan Kyai Anglurah Panji Sakti, karena beliau merusak Pura Batukaru dalam ekspedisi penyerangannya ke Denpasar dan Tabanan pada tahun 1652 M. Beliau lupa pada nasihat Ki Panji Landung ketika berada di pinggir Danau Buyan pada tahun 1611 M.
- Malapetaka dahsyat berupa tanah longsor dan banjir lumpur tanggal 22 Oktober 1815 (Masehi) yang disebabkan karena jebolnya dinding sebelah utara danau buyan-Tamblingan yang menimbun Buleleng/Singaraja bagian selatan, karena tidak dijaganya kelestarianfkesucian kawasan Bedugul dengan gunung dan danau di sekitarnya.
